Surabaya (beritajatim.com) – Perkembangan teknologi drone di Indonesia semakin pesat dan mulai merambah berbagai sektor, mulai dari pertanian, pemetaan, inspeksi infrastruktur, hingga logistik. Namun di balik pertumbuhan tersebut, kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang teknologi drone masih jauh dari kata cukup.
Menjawab tantangan itu, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Kristen (UK) Petra meluncurkan Petra Drone Academy, program pendidikan teknologi aplikasi drone pertama di Indonesia yang berbasis kredit akademik selama satu tahun.
Program yang diperkenalkan pada Senin (13/7/2026) di Matthew Room, Gedung Radius Prawiro lantai 10, Kampus UK Petra Surabaya itu merupakan hasil kolaborasi antara FTI UK Petra dengan PT SkyWay Aerospace Technology, perusahaan yang didirikan di Indonesia oleh Xiangdao Aerospace Technology (Beijing) Co., Ltd.
Peluncuran Petra Drone Academy menjadi langkah untuk menyiapkan tenaga ahli yang mampu menjawab kebutuhan industri modern. Tidak sekadar melatih mahasiswa menerbangkan drone, program ini dirancang agar peserta menguasai seluruh aspek teknologi pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV), mulai dari rekayasa, analisis data, hingga regulasi penerbangan.
Dekan Fakultas Teknologi Industri UK Petra, Handy Wicaksono, menjelaskan bahwa kurikulum Petra Drone Academy disusun berdasarkan kebutuhan industri yang terus berkembang.
“Kurikulum ini tidak hanya mengajarkan regulasi dan navigasi penerbangan. Mahasiswa juga dibekali ilmu rekayasa mulai dari kelistrikan, aerodinamika, perakitan drone secara mandiri, hingga teknologi pengolahan data berbasis kecerdasan buatan atau AI-Based Intelligent Recognition,” ujarnya.

Nelvina dan Chrisanta (dari kiri), mahasiswi UK Petra saat melihat2 berbagai bentuk drone yang akan di pelajari di Petra Drone Academy. (Istimewa)
Program tersebut dapat diikuti mahasiswa dari berbagai program studi di UK Petra. Selama satu tahun, peserta akan menempuh pembelajaran yang setara dengan 20 SKS, terdiri atas delapan mata kuliah profesional dan dua mata kuliah praktik khusus.
Materi pembelajaran dibagi ke dalam empat pilar utama, yaitu Foundation Courses, Applied Courses, AI-Oriented Specialized Courses, dan Practical Training Courses. Melalui kombinasi teori dan praktik tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi teknis sekaligus mampu mengikuti perkembangan teknologi UAV yang kini bergerak sangat cepat.
Lebih dari sekadar pendidikan di dalam kelas, Petra Drone Academy juga membuka peluang karier internasional. Program ini didukung akademisi dan praktisi dari Taiwan serta China. Mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan akan memperoleh Sertifikat Program Teknologi Aplikasi UAV dan memiliki kesempatan mengikuti program magang di Taiwan hingga memperoleh akses menuju pasar kerja global.
Menurut Handy, peluncuran program ini dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan tenaga profesional drone di Indonesia.
“Tujuan program satu tahun ini adalah membantu mengatasi kesenjangan tenaga ahli teknis drone di Indonesia. Industri membutuhkan SDM yang bukan hanya mampu menerbangkan drone, tetapi juga memahami regulasi keselamatan penerbangan sipil, integrasi sensor atau payload, pemrosesan data, hingga aspek perawatan perangkat,” jelasnya.
Data operasional Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) yang dihimpun Terra Academy menunjukkan saat ini terdapat lebih dari 15.000 drone profesional yang aktif digunakan untuk kebutuhan pemetaan dan dokumentasi industri di Indonesia.
Sementara itu, laporan Next Move Strategy Consulting mencatat nilai pasar drone komersial Indonesia mencapai USD 515,5 juta atau sekitar Rp8,2 triliun pada 2025. Nilai tersebut diproyeksikan meningkat hampir dua kali lipat menjadi USD 982,8 juta atau sekitar Rp15 triliun pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) sebesar 13,77 persen.
“Pertumbuhan pasar ini menjadi bukti bahwa kebutuhan tenaga ahli drone tidak bisa lagi ditunda. Tanpa SDM yang kompeten, perkembangan industri drone nasional tidak akan mampu berjalan optimal,” kata Handy.
Pesatnya perkembangan teknologi drone juga semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah video viral seorang petani di Jombang yang memanfaatkan drone berukuran besar untuk membantu aktivitas menuju area persawahan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi UAV kini tidak lagi terbatas pada sektor militer atau fotografi, tetapi mulai menjadi bagian dari transformasi industri dan aktivitas masyarakat.
Saat ini, pemanfaatan drone telah berkembang luas di bidang smart agriculture, pemetaan wilayah, inspeksi infrastruktur energi, konstruksi, hingga distribusi logistik. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi lulusan yang memiliki keahlian di bidang UAV.
Peluncuran Petra Drone Academy juga dirangkai dengan talkshow bertajuk “From Campus to Industry: Building the Future UAV Talent Ecosystem” yang menghadirkan Prof. Dr. Bill Tsair-Wang Chung dari Chung Yuan Christian University, Taiwan, serta Mr. Xinli Yu dari Beijing Sino-Aviation Research Institute.
Sebagai academic advisor Petra Drone Academy, Prof. Bill menegaskan pentingnya membangun ekosistem pembelajaran yang menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan industri global. Melalui kolaborasi lintas negara tersebut, UK Petra berharap mampu melahirkan generasi profesional UAV yang siap bersaing di tingkat internasional sekaligus mendukung percepatan transformasi digital di Indonesia. [fyi/suf]





