Probolinggo (beritajatim.com) – Tawa riang terdengar dari halaman sederhana di Desa Pohsangit Tengah, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Di bawah teriknya matahari pagi, puluhan anak berlarian, berteriak penuh semangat, dan saling mengejar satu sama lain.
Pemandangan itu mungkin terlihat biasa. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda. Tidak ada layar ponsel yang mereka genggam. Tidak ada suara gim digital yang memenuhi suasana. Yang ada hanyalah keceriaan anak-anak yang kembali menikmati permainan masa lalu.
Di pelataran Rumah Baca Cahaya, sekitar 50 anak berusia 7 hingga 14 tahun menghabiskan waktu libur panjang sekolah dengan cara yang semakin jarang ditemui saat ini. Mereka bermain gobak sodor, bentengan, tutup mata, congklak, dan sejumlah permainan tradisional lainnya.
Bagi sebagian anak, permainan tersebut merupakan pengalaman baru. Sebab, di tengah perkembangan teknologi, banyak permainan tradisional mulai tergeser oleh kehadiran gadget yang menawarkan hiburan tanpa batas.
Namun, melalui kegiatan sederhana ini, anak-anak di Desa Pohsangit Tengah diajak mengenal kembali dunia bermain yang melibatkan interaksi langsung, kerja sama, dan kebersamaan.
Lia, pengelola Rumah Baca Cahaya, menjadi sosok di balik kegiatan tersebut. Ia melihat perubahan pola bermain anak-anak saat ini yang semakin banyak menghabiskan waktu bersama telepon pintar.
“Kami ingin mengajak mereka mengisi liburan dengan kegiatan yang lebih menyenangkan. Jangan sampai waktu libur hanya dihabiskan untuk rebahan atau bermain handphone saja,” ujar Lia, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, permainan tradisional bukan hanya sekadar hiburan. Di balik permainan sederhana itu terdapat banyak nilai yang bisa dipelajari anak-anak, mulai dari kerja sama, sportivitas, komunikasi, hingga melatih kemampuan motorik.
“Permainan seperti ini juga mengajarkan mereka bagaimana berinteraksi dengan teman-temannya secara langsung. Kami ingin permainan tradisional tetap dikenal dan tidak hilang di generasi sekarang,” katanya.
Untuk menarik minat anak-anak, Lia bersama pengelola rumah baca menyiapkan hadiah kecil berupa alat tulis dan makanan ringan. Meski sederhana, hadiah tersebut ternyata mampu meningkatkan antusiasme anak-anak untuk mengikuti kegiatan.
Biaya kegiatan tersebut diperoleh dari iuran kecil para orang tua sebesar Rp5.000 per anak. Dana yang terkumpul kemudian digunakan kembali untuk kebutuhan peserta.
“Tidak besar, hanya Rp5.000 per anak. Kami gunakan untuk membeli hadiah dan konsumsi selama kegiatan berlangsung,” jelas Lia.
Bagi anak-anak, kegiatan tersebut menjadi pengalaman berbeda selama liburan. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga bertemu teman sebaya dan menghabiskan waktu dengan aktivitas yang membuat mereka bergerak.
Salah satu orang tua peserta, Faizah, mengaku bersyukur dengan adanya kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ini menjadi alternatif agar anak-anak tidak terus bergantung pada gadget.
“Biasanya kalau libur, anak lebih banyak bermain HP atau hanya di rumah. Dengan kegiatan seperti ini, mereka bisa bermain bersama teman-teman, belajar, dan lebih aktif,” ungkapnya.
Faizah juga melihat ada hal menarik selama kegiatan berlangsung. Banyak anak ternyata sudah mulai asing dengan permainan yang dulu menjadi bagian dari masa kecil para orang tua mereka.
“Dulu permainan seperti ini sering dimainkan anak-anak. Sekarang banyak yang tidak tahu. Dengan kegiatan ini, anak saya bisa merasakan permainan yang dulu saya mainkan waktu kecil,” tuturnya.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, halaman Rumah Baca Cahaya menjadi ruang kecil yang menghadirkan kembali masa kanak-kanak yang sederhana. Sebuah tempat di mana anak-anak belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari layar, tetapi juga dari tawa, kebersamaan, dan permainan yang dimainkan bersama. [rap/suf]






