Malang (beritajatim.com) – Dr. Ir. Aladin Eko Purkuncoro, S.T., M.T., dosen Teknik Mesin D3 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, menginisiasi inovasi saluran irigasi jarak jauh berbasis Internet of Things (IoT). Langkah ini berhasil mengantarkan tim ITN Malang lolos proposal dalam Program Hibah Hilirisasi Riset Prioritas Skema Ajakan Industri Tahun 2025 dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Ditjen Risbang Kemdiktisaintek.
Bersama tim lintas program studi, Aladin Eko sukses merancang sistem kendali yang dapat dikontrol langsung melalui ponsel pintar maupun komputer. Proyek multiyears (2025–2026) ini digarap secara kolaboratif bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta PT Merapi Tani Instrumen (Mertani) selaku mitra industri, dengan lokus penerapan di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
“Awalnya Mertani sudah memasang instrumen digital untuk peringatan cuaca di Sulawesi, tapi eksekusinya di lapangan masih manual. Kalau debit air naik, mereka masih menghubungi lewat telepon petugas lapangan untuk buka pintu air,” kata Aladin, Rabu (8/7/2026).
Aladin Eko menampilkan hasil inovasinya (Foto: Istimewa).
Lebih lanjut, Aladin menjelaskan bahwa celah komunikasi manual itulah yang mendorong kampusnya untuk ikut ambil bagian. “Dari situlah kami masuk, mengajak industri berkolaborasi, lalu menyempurnakan sistemnya dengan memakai teknologi IoT,” imbuh pria yang juga menjadi ketua tim perancang tersebut.
Proses pengembangan teknologi ini berjalan secara bertahap dengan melibatkan peran aktif mahasiswa. Sebelum diuji coba di medan sesungguhnya, tim melakukan simulasi awal memanfaatkan fasilitas di Kampus 2 Teknik Elektro ITN Malang menggunakan sistem lampu jarak jauh. Sementara itu, proses workshop perakitan mekanis bertempat di kediaman Aladin.
“Para mahasiswa juga diterjunkan langsung ke area persawahan di Sulawesi. Mereka bertugas mengambil data teknis secara riil, mulai dari jarak bentangan irigasi hingga kalkulasi debit air, untuk kemudian dikonversi ke dalam program IoT,” lanjut dosen Teknik Mesin tersebut.
Sistem cerdas ini bekerja secara otomatis berdasarkan input dari berbagai indikator, seperti sensor curah hujan dan sensor ketinggian permukaan air. Seluruh data tersebut dikirimkan secara langsung ke server berbayar yang berpusat di Jakarta dan Malang.
Menariknya, sistem monitoring milik PT Mertani ini telah terintegrasi dengan jaringan satelit penjelajah serta dilengkapi kamera pengawas (CCTV). Ketika indikator cuaca mendung, hujan deras, atau saat memasuki fase krusial musim tanam dan panen, status debit air langsung terbaca secara riil oleh sistem.
Melalui mekanisme ini, petugas dari Kementerian PU, mitra industri, maupun tim akademisi ITN Malang dapat memantau sekaligus mengendalikan mekanisme buka-tutup pintu air secara presisi dari jarak jauh. Pengendalian bisa dilakukan dari Jakarta, Sulawesi, maupun Malang, disesuaikan dengan kebutuhan debit air di area persawahan.
Proyek riset bertajuk “Sistem Kendali Pintu Saluran Irigasi Jarak Jauh Guna Menunjang Ketahanan Pangan Berbasis Regional bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU)” tersebut kini telah memasuki fase matang.
Pada tahun pertama pelaksanaan, yakni 2025, tim berhasil merampungkan prototipe berbahan pelat besi yang disesuaikan dengan kondisi geografis di Sulawesi hingga tervalidasi mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7. Output riset yang dihasilkan pun terbilang komplet, mencakup purwarupa fisik, dashboard monitoring, dokumen desain teknis, hingga draf paten sederhana.
“Saat ini memasuki tahun kedua pada 2026, fokus tim tertuju pada proses pengajuan agar alat tersebut bisa segera diinstalasi secara permanen di lokasi sesungguhnya di Sulawesi. Apabila tahapan berjalan mulus hingga tahun ketiga, sistem manajemen air pintar ini siap direplikasi secara masif ke berbagai titik irigasi strategis di Indonesia. Mengingat capaian TKT 7 yang kini bersiap naik ke TKT 8, komersialisasi dan produksi massal teknologi ini sudah di depan mata,” jelasnya.
Di sisi lain, PT Mertani sebagai perusahaan teknologi pertanian asal Yogyakarta yang fokus pada digitalisasi berbasis data, menilai inovasi besutan ITN Malang ini sangat aplikatif. Teknologi tersebut dinilai mampu menjawab problem fundamental yang dihadapi sektor pertanian di daerah.
Aladin pun menaruh harapan besar agar proyek hilirisasi ini tidak sekadar berakhir di atas kertas sebagai laporan riset atau draf dokumen paten semata, melainkan menjelma menjadi solusi konkret berskala nasional.
“Alat ini sudah tervalidasi di TKT 7, dan target kami selanjutnya adalah naik ke TKT 8 untuk masuk fase produksi massal. Harapannya, sistem kendali irigasi ini bisa menjadi pilot project sekaligus solusi pintar yang bisa diimplementasikan di pintu-pintu air seluruh Indonesia demi mendukung ketahanan pangan nasional,” pungkas Aladin. (dan/kun)






