Gresik (beritajatim.com) – Riuh pengunjung yang memadati PetroNite Fest 2026 yang telah usai mengisahkan cerita tersendiri bagi sejumlah kelurahan yang berada di ring satu perusahaan Petrokimia Gresik. Di antara ratusan tenant yang memenuhi area festival, delapan stan milik desa dan kelurahan justru menjadi magnet tersendiri. Ribuan orang rela mengantre hanya untuk mencicipi minuman herbal, camilan khas, hingga produk olahan hasil tangan warga ring satu.
Bagi masyarakat sekitar pabrik, festival ini bukan sekadar ajang pameran. Di balik setiap botol minuman dan kemasan makanan yang terjual, tersimpan kisah bagaimana potensi kampung perlahan berubah menjadi sumber penghasilan keluarga.
Salah satu cerita datang dari Kelurahan Sukorame. Siapa sangka, tanaman markisa yang dahulu hanya menghiasi pekarangan kini menjadi produk unggulan yang dikenal luas. Di stan kelurahan tersebut, pengunjung disuguhi minuman markisa segar dan kerupuk bayam Brazil, seluruhnya dibuat dari hasil budidaya masyarakat setempat.
“Di Sukorame ada Kampung Markisa. Tanaman ini dibudidayakan oleh warga kami sendiri. Saat ini ada sekitar 10 anjang-anjang markisa yang tumbuh produktif. Selain itu, hampir setiap rumah juga menanam bayam Brazil di dalam pot. Markisa dan bayam inilah yang kemudian kami olah menjadi produk unggulan kelurahan,” ujar Retno Istanti (62), yang akrab disapa Tanti, Selasa (7/7/2026).
Semangat gotong royong yang digaungkan menjadi kekuatan utamanya. Sebanyak 12 kader perempuan dan laki-laki rutin merawat sekitar 100 tanaman markisa, baik varietas kuning maupun ungu. Sementara itu, bayam Brazil tumbuh di ratusan pot milik warga dan tidak lagi hanya menjadi sayuran rumahan. Tanaman tersebut kini diolah menjadi kerupuk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Jika dulu warga hanya mengandalkan promosi melalui status WhatsApp (WA) dan melayani pembeli dari rumah ke rumah, kini produk Sukorame mulai dikenal masyarakat luas. Pameran yang rutin diikuti membuat jangkauan pasar semakin besar dan pesanan terus berdatangan.
“Sekarang karena sering mengikuti pameran seperti ini, produk kami semakin dikenal. Saat Lebaran misalnya, penjualan minuman markisa bisa mencapai sekitar 100 boks, masing-masing berisi 16 gelas,” ungkap Tanti.
Perjalanan itu tidak terjadi dalam semalam. Melalui Program Lontar (Kelompok Jajanan Masyarakat Sekitar), Petrokimia Gresik mendampingi warga mulai dari proses produksi hingga strategi pemasaran. Produk-produk unggulan masyarakat bahkan mendapat kesempatan dipasarkan di stan Swalayan Koperasi Konsumen Karyawan Keluarga Besar Petrokimia Gresik (K3PG), sehingga memiliki akses pasar yang lebih luas.
“Pendampingannya sangat menyeluruh, termasuk strategi pemasaran. Salah satunya dengan memberi kesempatan mengikuti PetroNite Fest yang setiap hari dikunjungi ribuan orang,” imbuh Tanti.
Kisah serupa juga tumbuh di Kelurahan Karangturi. Berawal dari bibit jahe merah yang diberikan melalui program pembinaan, warga berhasil mengembangkan minuman jahe instan berbentuk bubuk yang kini dipasarkan dalam kemasan sachet maupun botol.
“Kami mendapatkan bibit jahe merah dari Petrokimia Gresik, kemudian dibimbing mulai dari cara budidaya hingga mengolahnya menjadi minuman bubuk. Sekarang produk ini menjadi salah satu unggulan kami,” ujar Yuanita Fitri Agustin (45).
Produk tersebut kini menjadi tambahan sumber pendapatan masyarakat. Selain dijual di Swalayan K3PG, minuman jahe merah juga dipasarkan langsung dari rumah-rumah warga.
Tidak hanya itu, stan Karangturi juga menghadirkan lontong Ubus, kuliner khas Gresik yang hampir selalu habis diburu pengunjung. Selama PetroNite Fest berlangsung, sekitar 40 kotak lontong Ubus seharga Rp12 ribu ludes terjual setiap hari.
“Alhamdulillah kami selalu mendapat kesempatan mengikuti PetroNite Fest. Kegiatan seperti ini sangat membantu meningkatkan pendapatan UMKM di Karangturi,” urainya.
Momentum PetroNite Fest 2026 menghadirkan 670 tenant yang terdiri dari 558 pedagang kaki lima, 73 stan outdoor VIP, dan 39 stan indoor VIP. Di antara ratusan peserta tersebut, terdapat 12 tenant mitra binaan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Petrokimia Gresik.
Delapan di antaranya berasal dari desa dan kelurahan ring satu perusahaan, yakni Karangpoh, Karangturi, Roomo, Sukorame, Kroman, Lumpur, Ngipik, dan Tlogopojok.
Bagi masyarakat sekitar perusahaan, keberadaan festival ini lebih dari sekadar keramaian tahunan. Festival ini menjadi panggung yang mempertemukan potensi lokal dengan ribuan calon pembeli. Dari kebun markisa, pot bayam Brazil, hingga jahe merah yang ditanam warga, lahirlah produk-produk yang kini tidak lagi hanya dikenal di lingkungan sendiri, tetapi mulai menembus pasar yang lebih luas dan membuka peluang ekonomi baru. (dny/kun)






