Malang (beritajatim.com) – Merayakan hari jadi yang ke-19 dengan tema “Fostering Transformative Convergence”, Universitas Ma Chung (UMC) Malang bersiap melakukan transisi besar dari fase teladan hidup menuju penentu tren (trendsetter) pendidikan tinggi nasional. Target ini dicanangkan dalam perayaan Dies Natalis ke-19 yang berlangsung khidmat di Balai Pertiwi Universitas Ma Chung, Selasa (7/7/2026).
Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, MS., M.Sc., menjelaskan bahwa momentum usia ke-19 ini menjadi jembatan penting untuk mematangkan cetak biru pengembangan kampus tahap kedua. Hal itu diproyeksikan berjalan dari tahun 2026 hingga 2045 mendatang.
”Tahap pertama itu adalah menjadi living example, di mana apa yang kami lakukan menjadi teladan hidup bagi internal kami terlebih dahulu. Sekarang, saatnya kami berbenah diri masuk ke dalam tahap pengembangan kedua, yakni dari 2026 menuju 2045 untuk menjadi trendsetter,” ujar Prof. Yufra.

Menjadi trendsetter, menurut Prof. Yufra, berarti Universitas Ma Chung harus mampu mengambil bagian yang lebih luas dalam menentukan arah perkembangan dunia pendidikan tinggi, khususnya melalui penguatan pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Untuk mendukung visi besar tersebut, Universitas Ma Chung telah menyiapkan strategi penguatan sumber daya manusia (SDM) yang masif. Salah satu target konkretnya adalah menambah tujuh orang guru besar baru dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Langkah ini diambil bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan bagian dari lompatan kualitas akademik yang berkelanjutan
“Instrumen untuk menuju akreditasi Perguruan Tinggi Unggul sebenarnya sudah berhasil terpenuhi saat ini. Namun, itu tidak cukup bagi kami. Arti unggul itu melampaui standar nasional. Kami ingin kualitas ini betul-betul dipertahankan dan terus ditingkatkan mutunya secara konsisten,” tegasnya.
Sebagai langkah taktis, pihak kampus telah membentuk klaster kelompok riset, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Di dalam struktur ini, masing-masing guru besar senior nantinya akan membawahi dan membimbing kelompok dosen muda.
Saat ini, UMC telah memiliki enam guru besar, didukung oleh tujuh lektor kepala, serta porsi terbesar dosen berada pada jenjang lektor yang mencapai sekitar 30 hingga 40 persen dari total keseluruhan staf pengajar. Prof. Yufra menggarisbawahi pentingnya proses kaderisasi akademis yang organik di lingkungan kampus dibandingkan mengambil jalan pintas dengan membajak pengajar senior dari luar.
“Memang idealnya hierarki dosen itu berjenjang dari asisten ahli, lektor, lektor kepala, hingga guru besar. Kalau di semua lini langsung diisi guru besar dari luar asal bayar, sistem nilai institusi justru bisa luntur karena membawa budaya luar yang belum tentu selaras,” tambahnya.
Melalui kaderisasi terstruktur, Universitas Ma Chung memastikan 12 nilai dasar Ma Chung (12 Nilai Macu) dapat diturunkan dengan baik kepada para dosen muda serta mahasiswa, sehingga filosofi pendidikan tetap terjaga erat.
Rektor juga menekankan bahwa target akreditasi pada dasarnya bersifat administratif semata. Pondasi utama perguruan tinggi yang sejati terletak pada penanaman sistem nilai. Baginya, proses pendidikan tidak boleh berjalan secara transaksional melainkan harus bersifat transformasional.
”Transformasi itu berarti mengubah orang. Dari yang tidak tahu menjadi tahu itu baru sebatas transfer pengetahuan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mengubah yang tidak mau menjadi mau, yang kurang bertanggung jawab menjadi lebih bertanggung jawab, serta yang kurang paham etika menjadi beretika,” papar Prof. Yufra.
Di tengah masifnya perkembangan kecerdasan buatan, Universitas Ma Chung berkomitmen memberikan sentuhan kemanusiaan dalam kurikulumnya agar pendidikan tidak menjadi hampa. Karakter mahasiswa diasah melalui sistem poin keaktifan dengan enam rumpun kegiatan utama sebagai syarat kelulusan selain pemenuhan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Enam rumpun tersebut meliputi kepemimpinan (leadership), kepedulian sosial, pengembangan diri, wawasan almamater, serta pengembangan bakat dan minat.
Sebagai bentuk implementasi, Universitas Ma Chung memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk memilih jalur kelulusan non-skripsi. Beberapa alternatif tugas akhir yang ditawarkan meliputi penyusunan rencana bisnis (business plan), penciptaan bisnis (business creation), serta proyek nyata di perusahaan mitra.
Prof. Yufra menceritakan salah satu kisah sukses mahasiswa bimbingannya yang mengambil jalur business creation pada perusahaan keluarga PO Bagong. Mahasiswa tersebut melakukan riset riil mengenai pemborosan waktu kerja karyawan dan berhasil membangun sistem manajemen waktu yang efisien.
”Mahasiswa dibebaskan memilih skripsi, business plan, atau business creation. Namun, semuanya tetap wajib menyusun laporan ilmiah berbasis paper dengan indikator kinerja utama (KPI) dan rencana operasional yang jelas,” pungkasnya sembari menambahkan bahwa Ma Chung bersiap meluncurkan program S3 untuk mencetak inovator sains dan teknologi. (dan)






