Ponorogo (beritajatim.com) – Persoalan minimnya peserta didik baru masih membayangi sekolah dasar negeri di Ponorogo. Hingga awal Juli, lebih dari 50 SD Negeri tercatat baru memperoleh tidak lebih dari 5 murid pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Bahkan, 7 sekolah di antaranya masih belum mendapatkan satu pun peserta didik baru. Tak patah arang, Dinas Pendidikam (Dindik) Ponorogo pun membuka kesempatan SPMB SD Negeri hingga nanti tanggal 13 Juli 2026, awal masuk sekolah ajaran baru.
Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo Farida Nuraini mengatakan, SPMB jenjang SD telah berlangsung pada 8–20 Juni melalui jalur afirmasi, perpindahan tugas orang tua, dan domisili. Namun, hasil pembaruan data pada awal Juli menunjukkan masih ada sejumlah sekolah yang belum mampu memenuhi kebutuhan peserta didik baru.
“Sampai pembaharuan update kami awal Juli ini, masih kosong,” ungkap Farida, Senin (6/7/2026).
Farida menjelaskan, 7 SD Negeri yang belum memperoleh siswa baru di antaranya SDN Nambak Kecamatan Bungkal, SDN Setono Kecamatan Jenangan, dan SDN Truneng Kecamatan Slahung. Sementara itu, lebih dari 50 sekolah lainnya juga masih jauh dari jumlah ideal karena hanya menerima maksimal 5 murid baru.
Kondisi tersebut membuat Dindik Ponorogo masih memberikan kesempatan kepada sekolah-sekolah yang kekurangan murid untuk membuka pendaftaran hingga 13 Juli 2026. Langkah itu diharapkan dapat memperluas akses pendidikan sekaligus memberi kesempatan bagi masyarakat yang belum mendaftarkan anaknya ke sekolah.
“Bagaimanapun setiap siswa itu punya hak untuk mendapatkan pendidikan,” terangnya.
Menurut Farida, rendahnya jumlah peserta didik baru tidak dipicu oleh satu faktor saja. Banyak orang tua kini memiliki lebih banyak pilihan sekolah, baik sekolah swasta, lembaga pendidikan berbasis keagamaan, maupun pondok pesantren. Selain itu, jumlah anak usia sekolah juga semakin terbatas sehingga berdampak pada penerimaan murid di sejumlah SD Negeri.
Karena itu, Dindik Ponorogo meminta setiap sekolah lebih aktif mengenalkan diri kepada masyarakat. Sosialisasi ke taman kanak-kanak maupun pemerintah desa dinilai menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan minat calon peserta didik terhadap sekolah negeri.
“Semua ini saling mempengaruhi, tidak disebabkan satu alasan saja. Sekolah juga kami minta untuk aktif edukasi ke TK atau desa-desa,” pungkasnya. (end/ian)






