Probolinggo (beritajatim.com) – Selama lebih dari satu bulan, keluarga Siti Munawaroh (46), warga Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, hidup dalam ketidakpastian. Perempuan yang berpamitan keluar rumah untuk membeli cilok itu tak pernah kembali. Di tengah upaya pencarian yang buntu, polisi justru menemukan petunjuk demi petunjuk yang akhirnya bermuara pada penemuan jasad korban di dasar sumur tua di Desa Alassumur Kulon, Kecamatan Kraksaan.
Kasus ini kini membuka dugaan baru. Bukan sekadar perkara orang hilang, tetapi dugaan pembunuhan yang, menurut penyelidikan awal kepolisian, bermula dari perkenalan korban dengan seseorang melalui aplikasi kencan daring OMI.
Kapolsek Bantaran AKP Agus Eko Widodo mengungkapkan, korban dilaporkan hilang pada 30 Mei 2026, hari yang sama ketika ia meninggalkan rumah. Kepada keluarganya, Siti hanya berpamitan membeli cilok dengan mengendarai sepeda motor.
Namun, hingga malam hari korban tidak kunjung pulang. Keluarga berusaha mencari ke rumah kerabat dan sejumlah lokasi yang biasa didatangi korban, tetapi hasilnya nihil. Merasa ada kejanggalan, keluarga kemudian melaporkan kehilangan tersebut ke Polsek Bantaran.
“Laporan orang hilang itu langsung kami tindak lanjuti. Anggota melakukan penyelidikan sejak hari pertama,” kata AKP Agus, Sabtu (4/7/2026).
Di tengah pencarian, secercah petunjuk muncul. Pada 1 Juni 2026 sekitar pukul 14.20 WIB, sepeda motor yang digunakan korban ditemukan di aliran sungai di Dusun Krajan II, Desa Randumerak, Kecamatan Paiton.
Temuan itu menimbulkan tanda tanya besar. Kendaraan korban tidak berada di lokasi yang berkaitan dengan aktivitas sehari-harinya, melainkan telah dibuang ke sungai. Polisi kemudian mengamankan sepeda motor tersebut melalui Polsek Paiton sebelum diserahkan kembali kepada keluarga pada 8 Juni 2026.
Meski kendaraan ditemukan, keberadaan korban tetap menjadi misteri. Penyelidikan pun berlanjut dengan menelusuri aktivitas terakhir korban, termasuk komunikasi yang dilakukan melalui telepon seluler.
Dari pengembangan itulah, penyidik memperoleh petunjuk mengenai aktivitas digital korban. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, korban diduga berkenalan dengan seseorang melalui aplikasi kencan daring OMI.
Menurut AKP Agus, korban merupakan ibu rumah tangga yang merawat suaminya yang sedang sakit hingga mengalami kelumpuhan. Dalam kesehariannya, korban diduga mulai aktif menggunakan telepon genggam dan mengunduh aplikasi OMI.
“Korban diduga mengenal seseorang melalui aplikasi tersebut. Dari komunikasi yang terjalin, keduanya kemudian semakin akrab hingga akhirnya bertemu,” ujarnya.
Penyidik menduga komunikasi yang awalnya hanya berlangsung di ruang digital kemudian berlanjut ke pertemuan langsung. Di titik inilah rangkaian peristiwa yang berujung pada kematian korban diduga terjadi.
Selama lebih dari sebulan penyelidikan berlangsung, polisi terus menghubungkan laporan orang hilang, temuan sepeda motor, hingga jejak komunikasi korban.
Rangkaian petunjuk itu akhirnya mengarah ke Desa Alassumur Kulon, Kecamatan Kraksaan. Pada Jumat (3/7/2026), warga yang mencium bau busuk dari sebuah kebun sengon menemukan sumber aroma tersebut berasal dari sumur tua sedalam sekitar enam meter.
Saat dievakuasi, jasad korban sudah dalam kondisi membusuk berat dan tanpa busana. Kondisi jenazah yang rusak membuat proses identifikasi berlangsung tidak mudah.
Berbekal hasil penyelidikan tersebut, polisi kemudian mengamankan dua orang yang diduga berkaitan dengan perkara itu. Keduanya kini masih menjalani pemeriksaan intensif.
Meski demikian, polisi belum menyimpulkan motif secara pasti. Dari keterangan awal, kedua terduga pelaku menyebut faktor ekonomi sebagai alasan melakukan aksinya. Namun, penyidik menilai masih terdapat sejumlah kejanggalan. “Kalau memang motifnya ekonomi, mengapa sepeda motor korban tidak dijual? Itu masih kami dalami,” kata AKP Agus.
Polisi juga meluruskan informasi yang sempat berkembang di masyarakat. Korban bukan seorang janda, melainkan seorang istri sah yang memiliki dua anak.
Sementara itu, Kapolsek Kraksaan Kompol Masykur menegaskan identitas korban dan penyebab kematian secara ilmiah masih menunggu hasil autopsi dari tim forensik. “Kondisinya sudah membusuk sehingga kami masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematiannya,” ujarnya.
Hingga kini, penyidik masih mendalami seluruh jejak komunikasi digital korban, termasuk percakapan melalui aplikasi OMI, guna merekonstruksi kronologi sebelum korban menghilang. Hasil pemeriksaan forensik dan digital diharapkan dapat memperjelas peran masing-masing pihak serta mengungkap secara utuh bagaimana perkenalan di ruang digital diduga berujung pada kematian tragis seorang ibu rumah tangga asal Bantaran tersebut. (rap/kun)






