Bondowoso, (beritajatim.com) – Bank Jatim menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso menyalurkan bantuan 20.000 liter air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan di Kabupaten Bondowoso.
Bantuan tersebut diharapkan mampu meringankan beban masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih akibat musim kemarau.
Distribusi air bersih dilakukan ke dua desa di Kecamatan Taman Krocok, yakni Desa Purnama dan Desa Kemuningan. Masing-masing desa menerima 10.000 liter air bersih yang dikirim melalui empat rit pengangkutan menggunakan mobil tangki.
Pimpinan Bank Jatim Cabang Bondowoso, Heru Widodo, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap masyarakat yang tengah menghadapi krisis air bersih.
Menurutnya, Bank Jatim berkomitmen terus hadir mendukung berbagai upaya penanganan kebencanaan di Bondowoso, baik melalui bantuan langsung kepada masyarakat maupun dukungan anggaran bagi pemerintah daerah.
“Bank Jatim selalu hadir untuk masyarakat. Tidak hanya saat terjadi kekeringan, tetapi juga dalam berbagai upaya penanganan kebencanaan lainnya melalui dukungan anggaran dan kolaborasi bersama pemerintah daerah,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Bantuan tersebut disambut antusias warga. Tajir, warga Dusun Tugu RT 13 dan RT 14 RW 7, Desa Purnama, mengaku selama musim kemarau warga hanya mengandalkan satu sumber mata air dengan debit yang sangat kecil.
Untuk memperoleh air, warga harus berjalan sejauh satu hingga dua kilometer dari permukiman. Bahkan, untuk mengisi satu timba air dibutuhkan waktu hingga dua jam karena debit mata air sangat minim.
“Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih ini. Semoga bantuan seperti ini terus berlanjut karena kebutuhan air saat musim kemarau memang sangat mendesak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan dropping air bersih masih menjadi langkah utama pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat selama puncak musim kemarau. Distribusi air bersih akan terus dilakukan sepanjang Agustus hingga September.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai menyiapkan solusi jangka panjang sesuai arahan Bupati Bondowoso agar persoalan kekeringan dapat ditangani secara permanen, sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada bantuan air bersih setiap musim kemarau.
Kristianto menegaskan penanganan bencana kekeringan membutuhkan kolaborasi semua pihak. Karena itu, BPBD mengedepankan pendekatan pentahelix dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat.
“Dukungan Bank Jatim melalui bantuan 20.000 liter air bersih menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha sangat penting dalam memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau, sembari mendorong terwujudnya solusi permanen bagi daerah yang menjadi langganan kekeringan,” pungkasnya. (awi/aje)






