Jakarta (beritajatim.com) – Di tengah belum tuntasnya penyelesaian berbagai dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Indonesia, buku Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 resmi diperkenalkan kepada publik melalui acara Soft Launching dan bedah buku yang digelar di Kalia Restoran, Tebet, Jakarta Selatan.
Buku tersebut memuat kesaksian langsung delapan penyintas yang mengalami penangkapan, penahanan, hingga penyiksaan pada 1996.
Melalui pengalaman para korban, buku ini berupaya mendokumentasikan salah satu bagian penting perjalanan sejarah demokrasi Indonesia dari sudut pandang para penyintas.
Peluncuran buku menghadirkan Ester Jusuf sebagai keynote speaker. Sementara sesi bedah buku diikuti oleh dua penulis sekaligus penyintas, Trio Marpaung dan Syani, dengan tanggapan dari Komisioner Komnas HAM RI Uli Parulian Sihombing, S.H., M.H., serta tokoh gerakan buruh dan demokrasi Dita Indah Sari. Diskusi dipandu Assoc. Prof. Dr. Tuti Widyaningrum, S.H., M.H.
Trio penulis buku menyampaikan bahwa peluncuran buku ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan karya literasi, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa terhadap berbagai peristiwa yang menjadi bagian dari perjalanan demokrasi Indonesia.
“Melalui delapan kisah para penyintas, buku tersebut menggambarkan pengalaman penangkapan, intimidasi, hingga penyiksaan yang dialami sejumlah aktivis pada masa menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Kesaksian tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari dokumentasi sejarah sekaligus referensi bagi masyarakat untuk memahami dinamika perjuangan demokrasi di Indonesia,” kata Trio Arek Kalijudan Surabaya ini.
Penyelenggara juga menilai sejarah tidak hanya tersimpan dalam dokumen resmi negara, tetapi juga hidup melalui ingatan para penyintas.
Karena itu, mendengarkan dan mendokumentasikan pengalaman korban dinilai penting sebagai bagian dari upaya merawat kesadaran publik agar berbagai praktik pelanggaran hak asasi manusia tidak kembali terulang.
Selain menjadi ruang refleksi sejarah, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong diskusi yang lebih luas mengenai penghormatan terhadap hak asasi manusia sebagai salah satu fondasi utama kehidupan demokrasi.

Dokumentasi Sejarah dari Perspektif Penyintas
Buku Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 merupakan kumpulan kesaksian para penyintas mengenai pengalaman penangkapan, penahanan, dan penyiksaan yang terjadi pada 1996.
Melalui pendekatan berbasis pengalaman korban, buku ini dihadirkan sebagai upaya memperkaya literatur mengenai sejarah perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia sekaligus menjadi pengingat atas pentingnya perlindungan terhadap hak-hak dasar warga negara dalam kehidupan demokratis. (ted)






