Magetan (beritajatim.com) – Kenaikan harga minyak goreng yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memaksa perajin kerupuk di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengambil langkah bertahan agar usaha mereka tetap berjalan. Salah satu strategi yang ditempuh ialah memperkecil ukuran kerupuk serta mengurangi jumlah isi dalam setiap kemasan tanpa menaikkan harga jual.
Kondisi tersebut dialami perajin kerupuk di Desa Malang, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Senin (29/6/2026). Lonjakan harga minyak goreng curah dari sebelumnya Rp16.000 menjadi Rp19.300 per kilogram membuat biaya produksi meningkat signifikan. Di sisi lain, pelaku usaha tetap harus memenuhi permintaan pelanggan di tengah tekanan kenaikan harga berbagai bahan baku.
Sri Wahyuni (52), salah seorang perajin kerupuk di desa tersebut, mengatakan sejak minyak goreng kemasan sulit diperoleh dan harganya terus meningkat, ia beralih menggunakan minyak goreng curah untuk proses produksi. Dalam sehari, usahanya membutuhkan sekitar 250 kilogram minyak goreng curah untuk menggoreng berbagai jenis kerupuk yang didatangkan langsung dari produsen kerupuk mentah.
Selain harus membeli minyak goreng dengan harga yang lebih tinggi, Sri juga menghadapi kenaikan harga bahan baku lainnya. Untuk mengurangi kerugian, ia memilih mempertahankan harga jual kepada konsumen dengan konsekuensi mengurangi ukuran kerupuk dan isi setiap bungkus.
“Harga minyak naik, kita kena imbasnya. Kita hanya bisa mengurangi jumlah dalam kemasan dan memperkecil kerupuk. Belum lagi semua bahan naik, tepung juga plastik,” ujar Sri Wahyuni.
Saat ini, satu bungkus kerupuk yang dijual seharga Rp3.000 hanya berisi 14 keping. Sebelumnya, dengan harga yang sama, konsumen masih mendapatkan 15 keping kerupuk. Kebijakan tersebut diambil agar usaha tetap memperoleh keuntungan meski margin semakin menipis.
Tidak hanya produsen, para pedagang pengecer juga merasakan dampak dari kondisi tersebut. Berkurangnya isi kemasan memengaruhi pendapatan harian karena penjualan tidak lagi memberikan keuntungan seperti sebelumnya.
Wuryadi, salah seorang pengecer kerupuk, mengaku penghasilannya ikut menurun sejak produsen mengurangi jumlah isi dalam kemasan.
“Penghasilan tiap hari menurun, kerupuk kita kurangi, biasanya 15 jadi 14, biar sedikit dapat untung,” kata Wuryadi.
Kenaikan biaya produksi tidak hanya dipicu oleh mahalnya minyak goreng. Harga tepung sebagai bahan utama pembuatan kerupuk juga mengalami kenaikan. Begitu pula dengan harga plastik kemasan yang kini mencapai Rp52.000 per kilogram, melonjak tajam dibanding sebelumnya sekitar Rp30.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kecil harus melakukan berbagai penyesuaian agar tetap mampu mempertahankan usahanya. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, menaikkan harga jual dinilai berisiko menurunkan jumlah pembeli. Karena itu, mengurangi ukuran produk atau isi kemasan menjadi pilihan yang dianggap paling memungkinkan.
Fenomena ini juga menunjukkan tekanan yang sedang dihadapi industri makanan skala rumah tangga akibat meningkatnya harga bahan baku. Jika kenaikan harga terus berlangsung tanpa adanya stabilisasi pasokan maupun harga kebutuhan pokok, pelaku UMKM berpotensi menghadapi penurunan keuntungan yang lebih besar, bahkan tidak menutup kemungkinan sebagian usaha menghentikan produksinya.
Para perajin berharap harga minyak goreng beserta bahan baku pendukung lainnya segera kembali stabil sehingga biaya produksi dapat ditekan. Dengan kondisi harga yang lebih terkendali, mereka optimistis dapat mengembalikan ukuran dan jumlah isi kerupuk seperti sebelumnya serta menjaga keberlangsungan usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga dan masyarakat sekitar. [fiq/aje]






