Ringkasan Berita:
- Kirab Jolen menjadi puncak perayaan Bersih Desa sekaligus HUT ke-117 Desa Tambakasri.
- Tradisi Jolen bermakna “ojo kelalen” atau jangan melupakan asal-usul dan nikmat Tuhan.
- Desa Tambakasri dikenal sebagai sentra cengkeh, kopi, pisang, kelapa, dan manggis di Malang Selatan.
- Pemerintah desa berharap tradisi ini mempererat persaudaraan sekaligus menjaga warisan budaya bagi generasi muda.
Malang (beritajatim.com) – Kirab Jolen kembali menjadi tradisi yang mewarnai perayaan Bersih Desa Tambakasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Senin (29/6/2026). Tradisi budaya yang digelar setiap tahun tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-117 Desa Tambakasri.
Secara bahasa, istilah Jolen berasal dari ungkapan bahasa Jawa “ojo kelalen” yang berarti jangan sampai melupakan asal-usul serta berbagai nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Filosofi tersebut menjadi pesan utama yang terus diwariskan kepada masyarakat melalui kirab budaya yang rutin digelar setiap tahun.
Kepala Desa Tambakasri, Ngateno, mengatakan tradisi ngarak Jolen merupakan salah satu warisan budaya yang masih terjaga hingga saat ini dan menjadi identitas masyarakat Desa Tambakasri.
“Ngarak Jolen ini menjadi bagian dari Bersih Desa sekaligus peringatan hari jadi Desa Tambakasri yang ke-117 tahun,” jelas Ngateno usai acara, Senin (29/6/2026).
Desa Tambakasri berada pada ketinggian sekitar 410 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan mencapai 1.910 milimeter per tahun. Wilayah desa berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia di bagian selatan dan terdiri atas lima dusun, yakni Dusun Sidomulyo, Dusun Sidorejo, Dusun Sidomakmur, Dusun Sumberkembang, serta Dusun Sumbersekar.
Selain dikenal memiliki tradisi budaya yang kuat, Desa Tambakasri juga menyimpan potensi wisata alam. Salah satunya Pantai Tambak Asri atau yang juga dikenal sebagai Pantai Perawan Sidoasri. Pantai tersebut memiliki pasir putih kecokelatan, tebing hijau, pulau karang, serta kawasan hutan yang masih alami meski akses menuju lokasi cukup menantang.
Ngateno menjelaskan mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari sektor pertanian dengan komoditas unggulan berupa cengkeh, kopi, pisang, kelapa, hingga manggis.
“Jumlah penduduk kami sebanyak 10 ribu jiwa. Ada lima dusun. Desa kami penghasil pisang, cengkeh dan kopi. Termasuk kelapa. Per tahun tanaman cengkeh untuk satu desa bisa tembus Rp2 miliar. Itu jika kita bisa panen raya,” tuturnya.
Meski demikian, saat musim kemarau beberapa wilayah masih menghadapi persoalan ketersediaan air bersih. Salah satunya Dusun Sidorejo yang setiap tahun berpotensi mengalami kekeringan.
“Ada satu dusun, yakni Sidorejo yang kesulitan air. Kalau kemarau panjang seperti saat ini kita akan minta bantuan suplai air bersih ke BPBD,” ucapnya.
Ngateno berharap momentum Bersih Desa menjadi doa bersama agar masyarakat senantiasa hidup rukun, aman, serta diberikan kemudahan dalam mencari rezeki.
“Semoga seluruh masyarakat kami aman lancar, gampang gangsar dalam mencari rejeki,” bebernya.
Menurutnya, selamatan Bersih Desa juga menjadi simbol rasa syukur agar desa terus diberikan kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh warga.
Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Tambakasri, Gus Mahrus Ali, mengatakan sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat. Selain cengkeh dan kopi, kini masyarakat mulai mengembangkan komoditas hortikultura seperti durian dan manggis.
“Sekarang kita juga merambah ke buah-buahan yakni durian dan manggis. Tanaman tersebut sangat melimpah di desa kami selain cengkeh, kopi, pisang dan kelapa,” terang Gus Mahrus yang juga menjabat Anggota DPRD Kabupaten Malang.
Ia berharap tradisi Bersih Desa dan Kirab Jolen terus dilestarikan sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah berdirinya desa.
“Generasi sekarang harus ingat perjuangan nenek moyang kita membangun desanya,” pungkas Gus Mahrus. [yog/beq]






