Ringkasan Berita:
- Bersih Desa Kedungbanteng memasuki usia ke-125 pada 2026.
- Tradisi diawali kirab budaya, selamatan, hingga ditutup pagelaran wayang kulit.
- Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian, terutama cengkeh dan kopi.
- Pemerintah desa berharap tradisi menjadi penguat gotong royong dan daya saing desa.
Malang (beritajatim.com) – Perayaan Bersih Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, memasuki usia ke-125 pada Senin (29/6/2026). Tradisi tahunan yang telah diwariskan turun-temurun tersebut kembali digelar sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki, keselamatan, dan hasil panen, sekaligus menjadi upaya melestarikan budaya leluhur.
Rangkaian Bersih Desa diawali dengan berbagai kegiatan budaya, mulai dari pentas seni, selamatan, kirab budaya yang membawa gunungan tumpeng, hingga ditutup dengan pagelaran wayang kulit.
Kepala Desa Kedungbanteng, Ariv Iskandar Fatoni, mengatakan desanya telah berdiri sejak tahun 1901 dan kini dihuni lebih dari 7.200 jiwa yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.
“Jumlah penduduk kami sekitar 7.200 jiwa lebih. Mayoritas petani. Usia desa kami sudah 125 tahun. Karena desa kami sudah terbentuk sejak tahun 1901,” ungkap Ariv, Senin (29/6/2026).
Desa Kedungbanteng memiliki empat dusun, yakni Dusun Kedungbanteng Bawah, Kedungbanteng Atas, Krajan, dan Dusun Pondok Klabang.
Menurut Ariv, komoditas unggulan desa berasal dari sektor perkebunan, terutama cengkeh yang menjadi andalan masyarakat. Selain itu, warga juga menghasilkan kopi, pisang, dan kelapa.
“Daerah kami penghasil cengkeh terbesar. Selain cengkeh juga kopi, pisang dan kelapa,” tuturnya.
Ia berharap kondisi cuaca yang mendukung hingga akhir tahun dapat meningkatkan hasil panen cengkeh maupun kopi sehingga berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
“Mudah-mudahan panen raya tahun ini bisa maksimal. Karena cuacanya cukup baik. Sekali panen mayoritas penduduk bisa memperoleh ratusan kilo cengkeh maupun kopi,” ujarnya.
Ariv menambahkan, meski berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Malang, akses menuju Desa Kedungbanteng relatif baik karena didukung infrastruktur jalan yang memadai.
Seluruh rangkaian Bersih Desa berlangsung selama tujuh hari dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit lakon Wahyu Sandang Pangan yang dibawakan dalang Ki Paksi Candra Wibatsu dari Solo.
Melalui tema “Bangkit dan Berdaya”, pemerintah desa berharap tradisi Bersih Desa tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, menjaga persaudaraan antarmasyarakat, serta mendorong kemajuan desa.
“Kami berharap Desa Kedungbanteng menjadi desa bangkit dan berdaya saing tinggi, menekankan sifat gotong royong antarpenduduk dan tetap melestarikan tradisi serta budaya untuk membangun desa menjadi lebih baik,” ujar Ariv.
Ia menegaskan, Bersih Desa menjadi momentum penting untuk mengenang jasa para pendiri desa sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Bersih Desa yang bertajuk Bangkit dan Berdaya ini menjadi agenda rutin yang digelar setiap bulan Suro. Juga bertujuan mempererat tali persaudaraan antar sesama warga desa dan mengenang jasa para pendiri desa,” pungkasnya. [yog/beq]






