RINGKASAN BERITA:
- Menhaj Mochamad Irfan Yusuf resmi membuka pameran internasional International Islamic Expo (IIE) 2026 di JICC Jakarta.
- Kemenhaj RI memanfaatkan evaluasi pelayanan bagi 203.149 jemaah haji tahun 2026 sebagai pijakan reformasi draf regulasi.
- Cetak biru transformasi difokuskan pada tiga sasaran utama, termasuk penguatan ekosistem ekonomi dan percepatan digitalisasi visa.
- Expo global ini diikuti oleh delegasi dari 16 negara guna mengonsolidasikan tata kelola niaga ibadah yang sehat dan transparan.
Jakarta (beritajatim.com) — Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Menhaj RI), Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa draf transformasi radikal dalam penyelenggaraan haji dan umrah nasional wajib bersandar pada tata kelola yang terintegrasi, transparan, serta berorientasi penuh pada perlindungan jemaah. Target strategis tersebut dikunci Menhaj saat membuka secara resmi perhelatan akbar International Islamic Expo (IIE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan, pembentukan Kementerian Haji dan Umrah menjadi bagian dari reformasi birokrasi penunjang kecepatan kebijakan. Otoritas kementerian menginstruksikan agar perombakan sistemik tidak mandek pada level seremonial kelembagaan, melainkan harus menyentuh draf standar pelayanan minimum (SPM) riil bagi para jemaah di lapangan.
“Transformasi haji dan umrah tidak boleh berhenti pada seremoni. Transformasi harus hadir dalam sistem, regulasi, data, standar pelayanan, dan pengawasan agar setiap jemaah merasakan pelayanan yang semakin baik,” tegas Menhaj Mochamad Irfan Yusuf di Jakarta, Jumat (26/06/2026).
Irfan memaparkan, draf cetak biru transformasi kementerian diarahkan secara mutlak untuk mengamankan tiga sasaran utama atau “Tri Sukses”. Indikator makro tersebut meliputi sukses ritual keagamaan jemaah, sukses pengembangan ekosistem ekonomi haji nasional, serta sukses penegakan keadaban dan peradaban Islam di kancah global.
Guna mengejar target performa pada musim haji berikutnya, Kemenhaj RI menjadikan draf operasional Haji 1447 H / 2026 M sebagai basis data evaluasi primer. Sepanjang musim berjalan, sirkulasi penerbangan internasional tercatat sukses melayani evakuasi spiritual bagi 203.149 jemaah reguler asal Indonesia yang terbagi ke dalam 527 kelompok terbang (kloter).
“IIE 2026 harus menjadi momentum konsolidasi besar. Kita ingin ekosistem haji dan umrah memberikan manfaat yang lebih luas. Jemaah memperoleh pelayanan terbaik, penyelenggara semakin profesional, pelaku usaha nasional tumbuh, dan tata kelolanya semakin transparan serta akuntabel. Itulah arah transformasi yang sedang kita bangun,” urai Menhaj secara candor.
Lebih lanjut, lini prioritas kerja kementerian ke depan akan bertumpu pada percepatan sirkulasi penerbitan visa haji dan umrah lewat optimalisasi integrasi data satu pintu (single data source). Reformasi ini didesain untuk memotong draf birokrasi yang rumit, sekaligus memperketat pengawasan terhadap legalitas Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan PIHK guna menekan risiko penipuan berkedok paket murah.
Di kaveling infrastruktur, pembenahan draf fasilitas akan difokuskan pada standardisasi fisik bangunan asrama haji di seluruh debarkasi tanah air. Kemenhaj juga menginstruksikan pemenuhan fasilitas katering, akomodasi, dan moda transportasi yang wajib dirancang inklusif serta ramah bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, maupun jemaah berkategori risiko tinggi (risti).
Perhelatan IIE 2026 yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 ini tercatat menjadi magnet bisnis syariah global dengan melibatkan lebih dari 100 peserta pameran domestik dan internasional. Agenda tahunan ini juga mempertemukan sekitar 3.000 korporasi pembeli (buyer) serta delegasi resmi dari 16 negara sahabat demi mematangkan draf tata kelola industri retail haji-umrah yang sehat serta berkelanjutan bagi ekosistem ekonomi Indonesia. [ian/MCH]






