Ringkasan Berita:
- Cape Verde mencetak sejarah dengan lolos ke babak 32 besar pada debutnya di Piala Dunia 2026.
- Tim berjuluk Blue Sharks menutup fase grup tanpa kekalahan setelah bermain imbang melawan Arab Saudi.
- Negara berpenduduk sekitar 525 ribu jiwa itu menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah lolos ke fase gugur Piala Dunia.
- Penampilan gemilang kiper veteran Vozinha menjadi salah satu kunci keberhasilan Cape Verde.
Surabaya (beritajatim.com) – Cape Verde terus menulis kisah luar biasa pada penampilan perdananya di Piala Dunia 2026. Negara kepulauan di lepas pantai barat Afrika itu memastikan tiket ke babak 32 besar setelah bermain imbang 0-0 melawan Arab Saudi pada laga terakhir Grup H di Houston, Sabtu (27/6/2026) pagi WIB.
Hasil tersebut membawa Cape Verde menempati posisi runner-up Grup H dengan koleksi tiga poin. Mereka berada di bawah Spanyol yang keluar sebagai juara grup dengan tujuh poin, sekaligus unggul satu angka atas Uruguay yang harus tersingkir di posisi ketiga. Arab Saudi mengakhiri persaingan di dasar klasemen dengan satu poin.
Keberhasilan tersebut mengukir sejarah baru di Piala Dunia. Cape Verde yang memiliki populasi sekitar 525 ribu jiwa menjadi negara dengan jumlah penduduk paling sedikit yang pernah berhasil menembus fase gugur Piala Dunia putra.
Prestasi itu melampaui pencapaian sejumlah negara kecil lainnya seperti Curacao dan Islandia yang gagal melewati fase grup saat menjalani debut mereka di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.
Perjalanan Cape Verde menuju babak 32 besar dipenuhi kejutan. Pada laga pembuka, mereka sukses menahan imbang salah satu favorit juara, Spanyol, dengan skor 0-0.
Pada pertandingan kedua, Cape Verde kembali menunjukkan daya saingnya dengan bermain imbang 2-2 melawan Uruguay sekaligus mencetak gol perdana mereka sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia.
Hasil imbang tanpa gol melawan Arab Saudi memastikan Cape Verde menutup fase grup tanpa sekalipun menelan kekalahan.
Catatan tersebut menjadikan Cape Verde sebagai tim debutan pertama sejak Senegal pada Piala Dunia 2002 yang mampu melewati tiga pertandingan fase grup tanpa terkalahkan.
Sebelum pertandingan penentuan berlangsung, pelatih Bubista telah menyampaikan keyakinannya bahwa timnya masih memiliki peluang menciptakan sejarah.
“Semua orang berhak bermimpi dan tidak ada yang mustahil,” ujar Bubista.
Optimisme tersebut terbukti di lapangan. Cape Verde kembali tampil disiplin sepanjang pertandingan dengan mengandalkan performa impresif penjaga gawang veteran Vozinha.
Kiper berusia 40 tahun itu menjadi tembok kokoh di bawah mistar. Ia menggagalkan sundulan Mohamed Kanno pada masa injury time babak pertama sebelum menepis peluang Mohammed Abu Al-Shamat pada menit ke-66.
Penyelamatan krusial lainnya dilakukan pada menit ke-92 saat Vozinha menggagalkan peluang Abdullah Al-Hamdan sehingga gawang Cape Verde tetap tidak kebobolan hingga peluit panjang dibunyikan.
Keberhasilan Cape Verde juga ditentukan hasil pertandingan lain di Grup H. Pada waktu yang sama, Uruguay harus menyerah 0-1 dari Spanyol.
Gol kemenangan Spanyol tercipta pada menit ke-42 setelah kiper senior Uruguay, Fernando Muslera, melakukan kesalahan saat gagal mengamankan tembakan Alex Baena. Bola terlepas dari tangannya dan masuk ke gawang sendiri sehingga memastikan Spanyol finis sebagai juara grup, sementara Cape Verde mencatat sejarah dengan lolos ke fase gugur pada debut mereka di Piala Dunia. [faw/beq]






