Surabaya (beritajatim.com) – Ratusan massa aksi dari Front Anti Kapitalisme mulai anarkis. Tepat pukul 18.30 malam ini, mereka mulai memancing kemarahan aparat kepolisian dengan melempari batu, kaca, petasan dan besi.
Mereka juga meneriakkan kata-kata kotor kepada kepolisian. Massa juga merusak pagar depan Grahadi untuk diambil besinya dan dilemparkan ke aparat kepolisian.
Hingga berita ini diturunkan pukul 19.00 malam, aparat kepolisian belum bergerak untuk memukul massa mundur.
“Saya ingatkan jangan anarkis. Tolong mundur. Kami peringatkan sekali lagi,” teriak aparat polisi.
Seperti diberitakan sebelumnya demo yang diikuti oleh ratusan massa aksi itu mengusung tagline #IndonesiaSekarat, digelar untuk mengkritisi berbagai kebijakan dan program pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hingga mendesak adanya penghentian dua program ambisius Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Juru Bicara Aksi Front Anti Kapitalisme, Septia Rahma, mengungkapkan bahwa aksi demonstrasi hari ini merupakan perpanjangan nafas dari aksi-aksi sebelumnya yang sudah digelar oleh berbagai elemen.
“Kami ingin untuk terus-menerus memperpanjang nafas perlawanan yang ada di Kota Surabaya. Dengan beberapa tuntutan. Salah satunya yang paling krusial adalah turunkan harga BBM dan harga kebutuhan pokok,” ujar Septia kepada awak media di lokasi demontrasi, Jumat sore.
Septia menegaskan bahwa kebijakan pemerintah saat ini kurang berpihak kepada rakyat kecil dan lebih memperioritaskan kroni-kroni alat negara, dibuktikan dengan pengesahan Undang-Undang (UU) TNI-Polri.
“Banyak kelompok pengangguran yang sampai sekarang belum mendapatkan lapangan pekerjaan yang dijanjikan oleh Wakil Presiden Gibran, yaitu 19 juta lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Dalam berlansungnya aksi, massa turut mengibarkan sebuah baliho besar berupa “meme” kritik bergambar sosok Prabowo Subianto yang bertuliskan “Prabowo Kowarso-kowarso, Gendarseng, Lemes Longor” sebagai bentuk kritik kekinian menyesuaikan tren berbahasa arek.
“Kami pakai kata-kata ‘Lemes Longor’ karena pemerintahannya yang lemas yang selalu pakai kebijakan-kebijakan yang tidak pernah menyentuh akar rumputnya. Ini meme lokal. Jadi ya kita pilih bahasa-bahasa yang kira-kira melokal dengan arek-arek Suroboyo,” jelasnya. (tok/ted)