Kediri (beritajatim.com) – Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Suasana desa yang sebelumnya relatif tenang kini berubah ramai. Aktivitas warga meningkat, sementara pelaku UMKM mulai bermunculan dan memusatkan usaha di sekitar lokasi patung.
Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menyebut ikon baru tersebut memberi manfaat nyata bagi warga, khususnya pedagang kecil.
“Dan juga alhamdulillah dengan munculnya patung macan putih itu, ini menurut saya secara pribadi itu bermanfaat bagi masyarakat sekitar, terutama pedagang kaki lima UMKM,” ujarnya, Jumat (2/1/2026).
Menurut Safi’i, perubahan kondisi desa sangat terasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Patung Macan Putih kini menjadi magnet kunjungan masyarakat, termasuk dari luar daerah.
“Perbandingannya seperti langit dan bumi. Sekarang orang datang untuk melihat patung, foto-foto, dan itu membawa manfaat nyata, terutama bagi pedagang kaki lima dan UMKM,” jelasnya.
Dampak ekonomi terlihat dari munculnya berbagai produk UMKM dengan ikon Macan Putih. Produk tersebut meliputi gantungan kunci, kaos, mainan, hingga balon.
Manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan warga Desa Balongjeruk, tetapi juga masyarakat dari desa lain yang ikut berjualan di kawasan tersebut.
Salah satunya Ningrum, ibu rumah tangga yang mencoba menjual kaos sablon bergambar Patung Macan Putih.
“Saya baru kok mbak. Coba jualan disini karena ramai ya. Bahkan subuh aja sudah banyak yang foto-foto,” ujarnya.
Meski baru memulai usaha, Ningrum mengaku permintaan kaos sablon cukup tinggi.
“Ini bawa sedikit soalnya cuma buat contoh. Tapi langsung banyak yang pesen. Ini tadi baru masuk lagi 50 pesanan buat tanggal 25 dari pemerintah sini,” imbuhnya.
Safi’i menjelaskan, meski sejak awal belum dirancang konsep besar, berbagai kegiatan mulai muncul atas inisiatif warga sekitar Patung Macan Putih.
Dalam waktu dekat, warga sepakat menggelar senam bersama tingkat umum setiap hari Minggu di lokasi tersebut. Selain itu, ada usulan lomba melukis untuk anak-anak tingkat TK.
“Ya, untuk sementara ini itu kegiatannya. Ya, Alhamdulillah kemarin, tadi pagi ini juga sekitar Patung Putih sudah kita rapikan. Insyaallah nanti mungkin penampilannya agak beda daripada yang kemarin, begitu,” katanya, Jumat.
Pemerintah Desa Balongjeruk juga membuka peluang penerapan Car Free Day (CFD) di kawasan Patung Macan Putih, meski masih akan dibahas lebih lanjut.
“Ya, rencana ke depan seperti itu. Setelah hari Minggu itu nanti kita bahas sama-sama, nanti kita lihat antusiasnya dulu,” tambahnya.
Saat ini, pengelolaan kegiatan masih difokuskan pada warga RT 1 karena lokasi patung berada di wilayah tersebut.
Terkait polemik yang sempat muncul, Safi’i menyebut pihak desa telah menggelar musyawarah bersama warga untuk menentukan sikap terhadap keberadaan patung.
“Kami tidak ingin ada kegaduhan. Apa pun keputusan warga, kami siap. Alhamdulillah, hasil musyawarah memutuskan patung ini dilestarikan,” tegasnya.
Setelah viral, Patung Macan Putih justru menarik perhatian banyak pihak dari luar daerah. Sejumlah seniman dan pihak eksternal dari Bali, Yogyakarta, hingga Mojokerto menyatakan minat jika patung tersebut dilepas, dengan nilai penawaran mencapai ratusan juta rupiah.
Namun, Pemerintah Desa Balongjeruk memilih mempertahankan ikon tersebut sebagai identitas desa.
Popularitas Patung Macan Putih juga menembus mancanegara. Safi’i mengungkapkan bahwa kerabatnya di Malaysia menyebut ikon tersebut telah tayang di media setempat, bahkan menarik perhatian warga dari Australia dan Singapura.
“Ini luar biasa. Dari yang sempat dihujat, kini justru membawa manfaat dan mengangkat nama desa,” ujar Safi’i. [nm/ian]






