Malang (beritajatim.com) – Gedung SDN 2 Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, cukup memprihatinkan. Sudah lama siswa di sekolah itu belajar persis di bawah atap gedung yang ambrol.
Beberapa kayu penyangga plafon rapuh. Sehingga, hal itu mengancam keselamatan siswa saat proses belajar mengajar. Untuk menghindari jumlah reruntuhan plafon lebih banyak, pihak sekolah terpaksa menyangganya dengan bambu.
Menanggapi hal itu, Kepala SDN 2 Klepu, Edi Iswanto mengaku khawatir saat musim hujan tiba. Pasalnya, potensi jatuhnya plafon akan semakin besar.
“Kerusakan terjadi di ruang kelas 4. Dengan kondisi saat ini di tahun ajaran baru 2026/2027 nanti, guru tidak berani lagi memberikan pembelajaran di ruang yang rusak,” ungkap Edi, Rabu (24/6/2026).
Agar kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk siswa kelas 4 tetap berjalan maksimal, kata Edi, pihaknya mencoba mencari solusi bersama komite sekolah dan warga sekitar.
“Apakah di tahun ajaran baru 2026/2027 nanti untuk siswa kelas 4 harus kami masukkan siang, atau mungkin sementara waktu bisa pinjam rumah warga yang memenuhi persyaratan untuk sarana belajar, kami akan minta petunjuk dari pengawas Dinas Pendidikan Kecamatan Sumbermanjing Wetan lebih dulu,” tegasnya.
Edi menjelaskan, kondisi di lingkungan SDN 2 Klepu selain terjadi kerusakan pada ruang kelas 4, juga terdapat ruang kelas yang tidak layak dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Seperti ruang belajar murid kelas 5 yang sebelumnya berukuran 4 x 7 meter merupakan ruang guru.
Lembaga yang dihuni 105 siswa saat ini juga belum memiliki ruang perpustakaan, ruang UKS, ruang komite, bahkan ruang kepala sekolah yang kini masih menjadi satu dengan ruang tamu.
Keterbatasan ruangan di sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1965 ini menjadi tantangan serius bagi pihak sekolah. Meski hal tersebut berdampak langsung pada kenyamanan dan kualitas belajar mengajar.
Ke depan, lanjut Edi, pihaknya segera meminta petunjuk pengawas Dinas Pendidikan Kecamatan Sumbermanjing Wetan agar segera ada tindak lanjut oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Pihaknya berharap segera mendapatkan revitalisasi atau bantuan dari dinas terkait guna proses perbaikan gedung sekolah.
Edi khawatir, kerusakan gedung sekolah akan berdampak pada hilangnya kepercayaan masyarakat. Artinya, orang tua akan enggan menyekolahkan anaknya karena cemas akan keselamatan fisik, serta meragukan kualitas dan komitmen institusi dalam mencetak generasi yang kompeten.
“Saya juga berkomunikasi dengan Ketua PGRI Kabupaten Malang Cabang Sumbermanjing Wetan H. Sait. Dia menyarankan, untuk sementara ruangan itu diamankan agar tidak membahayakan. Kemudian juga akan komunikasi dengan pengawas dan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang,” Edi mengakhiri. (yog/kun)






