Gresik (beritajatim.com) – Lesunya pasar otomotif dalam negeri mulai berdampak pada penurunan permintaan sejumlah komponen kendaraan. Namun, pelaku industri komponen otomotif asal Kabupaten Gresik, PT Indospring Tbk, mengupayakan beberapa langkah efisiensi biaya produksi melalui elektrifikasi proses pemanasan, penggunaan forklift listrik, serta pemanfaatan teknologi.
Manajemen Indospring menyebutkan kondisi perlambatan ini sudah terasa sejak beberapa waktu terakhir, seiring melemahnya daya beli masyarakat serta penurunan penjualan kendaraan baru di pasar domestik. Situasi tersebut ikut menekan permintaan suku cadang dari berbagai segmen industri.
Meski demikian, perusahaan dengan kode emiten INDS tersebut mulai melakukan penyesuaian strategi bisnis. Salah satu langkah yang dilakukan adalah tetap menggarap pasar domestik OEM, aftermarket (replacement spare part), dan pasar ekspor ke Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Australia, serta negara-negara di Timur Tengah.
Dirut PT Indospring Tbk, Wiranto Nurhadi, menegaskan pasar dalam negeri memang sedang melambat sehingga perusahaan harus mencari peluang lain, termasuk memperkuat efisiensi dan membuka pasar ekspor.
“Tahun ini kami harus lebih agresif lagi memperbesar market share, meningkatkan kapasitas produksi fastener, serta memperbesar penguasaan domestik, ekspor, dan meningkatkan brand INDS,” ujarnya di sela-sela RUPS, Rabu (24/6/2026).
Di tengah melambatnya industri otomotif dalam negeri, lanjut dia, dampak ekonomi global serta memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah turut mempengaruhi pelaku industri yang memiliki pasar di negara tersebut.
“Selain tertekannya nilai tukar rupiah terhadap USD, situasi pergolakan di Timur Tengah sangat mempengaruhi ekspor dan transportasi laut. Secara korporasi tahun lalu bisa dinikmati, tapi tahun ini terpengaruh oleh faktor biaya,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur PT Indospring, Bob Budiono, menuturkan bahwa meski kondisinya melambat, penjualan bersih pada kuartal pertama 2026 mencapai Rp849 miliar atau naik 10 persen dibanding pencapaian kuartal pertama 2025.
“Tahun ini kami harus bekerja lebih keras lagi karena penjualan diproyeksikan bisa mencapai Rp3,8 triliun, meningkat 16 persen dibanding realisasi tahun 2025,” tuturnya.
Dirinya berharap pada kuartal kedua 2026 pasar komponen otomotif kembali membaik. Selain itu, pihaknya juga membuka pasar ekspor baru dengan menjajaki kawasan Amerika Latin dan Asia Timur.
Saat ini, Indospring memiliki empat pabrik spring, dua pabrik komponen rem, dan satu pabrik baut. Kapasitas per tahun untuk masing-masing produk mencapai 114 ribu ton pegas daun, 6.600 ton pegas keong panas, serta 4.200 ton pegas keong dingin yang terdiri atas valve spring dan wire ring.
Indospring juga memproduksi 5.400 ton stabilizer bar, 6.600 ton komponen rem kendaraan bermotor, dan 3.600 ton baut yang telah beroperasi sejak 2025. (dny/kun)






