Magetan (beritajatim.com) –Wakil Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro, mulai menjajaki solusi peningkatan pendapatan petani kentang di Kecamatan Plaosan melalui pengembangan komoditas alternatif setelah masa panen kentang berakhir.
Langkah tersebut muncul setelah adanya dialog antara pemerintah daerah dengan puluhan petani kentang mitra Indofood yang mengelola sekitar 150 hektare lahan di kawasan Plaosan.
Pertemuan yang digelar di Balai Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan, Selasa malam (23/6/2026), dihadiri sekitar 20 perwakilan petani. Dalam forum itu, para petani meminta pemerintah daerah memberikan pendampingan terkait pilihan tanaman yang berpotensi memberikan keuntungan sekaligus memiliki kepastian pasar.
“Pada intinya mereka meminta pemerintah daerah memfasilitasi, membimbing, dan membina mereka untuk menentukan tanaman apa setelah kentang yang bisa terserap pasar dan pada akhirnya meningkatkan penghasilan serta memperbaiki ekonomi petani,” kata Suyatni.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi petani bukan hanya soal budidaya, tetapi juga pemasaran hasil panen. Petani kerap ragu menanam komoditas baru karena khawatir hasilnya tidak terserap pasar.
Di sisi lain, kebutuhan pasar lokal sebenarnya tersedia. Namun, pedagang besar sering kali lebih memilih mendatangkan produk dari luar daerah sehingga produk petani lokal kalah bersaing.
“Hal-hal seperti ini yang mereka minta didiskusikan dan difasilitasi pemerintah untuk dicarikan jalan keluar,” ujarnya.
Salah satu opsi yang mengemuka dalam diskusi adalah pengembangan tanaman cabai keriting sebagai komoditas pasca kentang. Namun, menurut Suyatni, gagasan tersebut masih dalam tahap kajian karena berkaitan dengan skala produksi dan efisiensi distribusi.
Ia mencontohkan, jika produksi cabai keriting masih terbatas, biaya pengiriman ke luar daerah akan menjadi tinggi dan berpotensi mengurangi daya saing petani.
Sebaliknya, di wilayah Parang seperti Desa Nglopang, Mategal, Sayutan, dan Pronso, petani mampu menghasilkan cabai keriting hingga puluhan ton per hari saat musim hujan. Produksi dalam jumlah besar itu membuat para pedagang datang langsung untuk membeli hasil panen.
“Nah, apakah pola tanam seperti di Parang saat musim kemarau bisa direplikasi di Plaosan, itu yang sedang kami kaji bersama. Sedang dijajaki agar muncul diskusi yang produktif,” jelasnya.
Suyatni menilai langkah petani menyampaikan persoalan secara langsung kepada pemerintah merupakan hal yang tepat. Menurutnya, program pemerintah idealnya dibangun berdasarkan masalah nyata yang dihadapi masyarakat.
Ia menegaskan sektor pertanian layak menjadi prioritas pembangunan daerah karena mayoritas penduduk Magetan berprofesi sebagai petani. Selain itu, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Magetan juga masih menjadi yang terbesar.
“Kalau aspirasi yang masuk banyak dari petani, tentu wajar jika pemerintah memprioritaskan sektor pertanian. Populasi terbesar penduduk kita juga petani, dan struktur PDRB Magetan paling besar masih dari sektor pertanian,” katanya.
Lebih lanjut, Suyatni mengajak petani untuk mulai mengubah pola pikir dalam melihat peluang pasar. Menurutnya, kekhawatiran bahwa hasil panen tidak akan laku sering kali menjadi penghambat munculnya komoditas baru.
Ia mencontohkan keberhasilan petani cabai keriting di Parang yang awalnya juga menghadapi keraguan serupa. Namun setelah produksi meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar, para pedagang justru datang langsung ke sentra produksi.
“Setelah produksinya banyak, tidak pernah ada yang menolak. Pedagang malah datang berebut membeli dan berapa pun produksinya terserap. Ini yang perlu direplikasi di daerah lain dengan komoditas yang sesuai potensi masing-masing wilayah,” tuturnya.
Melalui kajian tersebut, Pemerintah Kabupaten Magetan berharap dapat menemukan pola tanam yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian setelah panen kentang. Dengan begitu, petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas dalam setahun, tetapi memiliki sumber pendapatan tambahan yang lebih menjanjikan.
Audiensi ini turut dihadiri Anggota Fraksi Nasdem DPRD Magetan Gaguk Arief, Kades Pacalan, perwakilan Indofood dan para petani kentang desa setempat.[fiq/aje]