Ringkasan Berita:
- DPP LDII menilai kepulangan jemaah haji harus menjadi awal transformasi sosial di masyarakat.
- Haji mabrur dinilai tidak cukup berhenti pada kesalehan individu, tetapi harus membawa perubahan sosial.
- Dody Taufiq Wijaya menekankan peran haji sebagai penggerak moral, perekat sosial, dan pemberdaya ekonomi umat.
- KH Aceng Karimullah menyebut haji sejak masa perjuangan menjadi sarana lahirnya pemikiran dan gerakan perubahan.
Surabaya (beritajatim.com) – Kepulangan jemaah haji ke tanah air dinilai tidak hanya menjadi penanda selesainya rangkaian ibadah di Tanah Suci, tetapi juga awal dari transformasi sosial yang lebih luas. Mereka yang meraih predikat haji mabrur diharapkan mampu membawa pengaruh positif serta menjadi penggerak perubahan di lingkungan sekitarnya.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menyambut kepulangan jemaah haji Indonesia pada Selasa (23/6/2026).
“Jika ditarik dari benang merah sejarah, para tokoh bangsa terdahulu sepulang dari tanah suci selalu membawa spirit perubahan. Ibadah haji di masa lalu menjadi katalisator perjuangan kemerdekaan, mencerdaskan bangsa, dan mengikis kolonialisme,” papar Dody.
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa para haji pada masa perjuangan tidak hanya pulang membawa pengalaman spiritual, tetapi juga gagasan-gagasan baru yang progresif. Mereka menjadi motor penggerak perubahan sosial sekaligus pembaharu peradaban di tengah masyarakat.
Dody menilai semangat tersebut masih relevan untuk diterapkan pada masa sekarang. Esensi kemabruran haji, kata dia, tercermin dari kemampuan seseorang untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sosialnya.
Ia mengaitkan makna kemabruran dengan konsep hijrah, yakni berpindah dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik, baik secara pribadi maupun sosial.
“Haji yang mabrur tidak boleh egois dengan kesalehan individunya saja, melainkan harus turun ke masyarakat, mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf), mencegah kemungkaran (nahi munkar), dan menjadi pelopor solusi atas berbagai problem sosial di sekitarnya,” ungkapnya.
DPP LDII menilai peran para haji dalam pembangunan bangsa saat ini dapat diwujudkan melalui tiga pilar utama. Pertama, menjadi teladan moral dan etika melalui sikap jujur, amanah, serta berintegritas. Kedua, menjadi perekat sosial yang mampu menjaga toleransi dan mengurangi polarisasi di tengah masyarakat. Ketiga, menjadi penggerak ekonomi umat melalui penguatan zakat, infak, sedekah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Dody, apabila setiap tahun ratusan ribu jemaah haji Indonesia kembali dengan semangat perubahan yang sama, maka akan terbentuk modal sosial yang sangat besar untuk membangun Indonesia yang maju, religius, dan berkeadilan.
Pandangan serupa disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Aini sekaligus anggota Majelis Pakar DPP LDII, KH Aceng Karimullah.
Menurut KH Aceng, ibadah haji sejak awal abad ke-20 telah memainkan peran penting dalam mendorong perubahan sosial dan kebangkitan umat Islam di Indonesia.
“Karena ibadah haji pada zaman itu menjadi semacam konferensi umat Islam se-dunia. Maka orang-orang yang punya minat yang sama akan bertemu saat haji, termasuk orang-orang yang memiliki minat politik (memperjuangkan nasib umat Islam). Mereka akan mencari teman diskusi di sana,” paparnya.
Ia menjelaskan, banyak tokoh yang pulang dari Tanah Suci membawa semangat baru untuk memperjuangkan kemerdekaan dan perubahan sosial. Bahkan, menurutnya, pemerintah kolonial Belanda saat itu memberikan perhatian khusus terhadap para haji yang kembali ke Indonesia.
KH Aceng juga mengutip sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa tanda haji mabrur tercermin dari perilaku yang lebih santun dan meningkatnya kepedulian sosial terhadap sesama.
“Menurut para ulama ahli tafsir, mengatakan bahwa haji yang mabrur terletak pada mereka yang pulang haji terhadap urusan dunia lebih wira’i, lebih zuhud, lebih hati-hati. Terutama hati-hati pada yang haram atau yang syubhat. Urusan dunia lebih zuhud, urusan akhirat lebih semangat,” paparnya.
Ia menambahkan, seluruh ibadah dalam Islam sejatinya memiliki dampak terhadap pembentukan karakter dan kemajuan masyarakat. Salat, puasa, zakat, maupun haji mengandung nilai-nilai yang mampu memperkuat akhlak, kesabaran, serta kepedulian sosial.
Melalui momentum kepulangan jemaah haji tahun ini, LDII berharap para haji dapat menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai kebaikan, memperkuat solidaritas sosial, serta berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa yang lebih maju dan berkeadaban. [tok/beq]






