Bangkalan (beritajatim.com) – PT Pupuk Indonesia (Persero) mempermudah petani terdaftar di Kabupaten Bangkalan dalam menebus pupuk bersubsidi. Kemudahan ini menjadi upaya Pupuk Indonesia bersama pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pupuk petani guna menjaga produktivitas pertanian dan keberlanjutan swasembada pangan nasional.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, dalam acara Rembuk Tani Pupuk Indonesia di Bangkalan mengatakan, pada tahun 2025 Indonesia telah berhasil swasembada beras dan diharapkan keberlanjutannya. “Tahun 2027 kita sudah harus swasembada pangan,” ujar Widiastuti, Selasa (23/6/2026).
Untuk mencapai target tersebut, Widiastuti mengatakan pemerintah mendorong produktivitas pertanian dengan memberikan kemudahan akses pupuk bersubsidi bagi petani. Mengingat pupuk merupakan salah satu poin vital bagi keberhasilan budidaya pertanian.
Adapun upaya nyata pemerintah dalam memberikan kemudahan akses yaitu menyederhanakan peraturan pada tata kelola penyaluran pupuk bersubsidi. Sebelumnya ada 145 regulasi yang mengatur distribusi pupuk bersubsidi sehingga membutuhkan verifikasi berjenjang. Sedangkan saat ini lebih sederhana sehingga pupuk bersubsidi bisa ditebus petani sejak awal tahun sesuai alokasi, atau pada saat petani terdaftar membutuhkan.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah musim kemarau dan potensi El Nino, ketersediaan pupuk juga harus tetap terjaga. Kedatangannya ke Bangkalan salah satunya untuk memastikan distribusi pupuk berjalan lancar di ujung barat Pulau Madura ini. Pupuk benar-benar tersedia sesuai alokasi di kios-kios sehingga tidak menghambat budidaya petani.
Direktur Operasi PT Pupuk Indonesia (Persero), Dwi Satriyo Annurogo, yang turut hadir di Bangkalan, menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah terhadap kinerja Pupuk Indonesia dalam menyalurkan pupuk bersubsidi lebih efisien. Kemudahan-kemudahan yang diberikan pemerintah untuk petani menjadikan penyerapan pupuk bersubsidi lebih optimal.
Hingga 19 Juni 2026, secara nasional Pupuk Indonesia telah menyalurkan 4.583.262 ton atau 46,6 persen dari total alokasi 2026 sebesar 9.845.686 ton. Rincian realisasinya yaitu Urea 2.077.389 ton, NPK Phonska 2.322.861 ton, NPK Formula Khusus 37.479 ton, SP-36 4.051 ton, ZA 6.051 ton, dan pupuk organik 135.431 ton.
“Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi ini dibandingkan periode yang sama tahun 2025 meningkat signifikan sebesar 1.082.855 ton, atau naik 130 persen,” kata Dwi Satriyo.
Khusus realisasi di Jawa Timur hingga periode yang sama menunjukkan persentase di atas nasional, yaitu 54,1 persen atau 1.103.124 ton dari alokasi tahun 2026 sebesar 2.038.387 ton. Adapun penyerapan pupuk bersubsidi di Bangkalan mencapai 22.966 ton atau 28,8 persen dari alokasi 2026 sebanyak 43.931 ton.
“Kita harus berterima kasih kepada pemerintah karena HET (Harga Eceran Tertinggi) sudah turun dan mekanisme penebusan pupuk menjadi lebih sederhana. Kemudahan ini untuk kesejahteraan petani, dan sekarang Indonesia sudah swasembada beras,” ujar Dwi Satriyo.
Untuk mendukung penyerapan lebih optimal, Pupuk Indonesia juga menyiapkan stok pupuk bersubsidi nasional sebesar 836.421 ton per 22 Juni 2026. Terdiri dari Urea 525.715 ton, NPK 234.570 ton, NPK Khusus Kakao 9.625 ton, SP-36 17.078 ton, ZA 3.675 ton, dan pupuk organik 45.759 ton.
Khusus wilayah Jawa Timur, Pupuk Indonesia menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 139.660 ton, terdiri dari Urea 89.036 ton, NPK Phonska 20.839 ton, NPK Formula Khusus 160 ton, SP-36 13.602 ton, ZA 2.470 ton, dan pupuk organik 13.554 ton. Untuk Bangkalan, Pupuk Indonesia menyediakan 3.243 ton stok pupuk bersubsidi, yaitu Urea 1.889 ton dan NPK Phonska 1.344 ton.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kebudayaan, dan Perikanan (Dispertan) Kabupaten Bangkalan, C. Henry Kusuma Karyadinata, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas kemudahan yang diberikan sehingga petani terdaftar lebih mudah mendapatkan pupuk bersubsidi. Khususnya kebijakan penurunan HET yang dampak positifnya benar-benar dirasakan petani.
“Terima kasih kepada pemerintah karena HET pupuk bersubsidi turun 20 persen. Penurunan ini berdampak pada peningkatan penebusan pupuk bersubsidi oleh petani di Bangkalan,” ujarnya. (sar/kun)





