Ringkasan Berita:
- DPRD Surabaya mengungkap adanya kawasan yang tidak mendapatkan pembangunan infrastruktur air selama 10 tahun.
- Kedinding Nusa Indah, Kedinding Rambutan, dan Sidotopo disebut masih menjadi langganan banjir.
- Keluhan warga akan diajukan sebagai aspirasi untuk masuk dalam prioritas pembangunan.
- DPRD mendesak Pemkot Surabaya memprioritaskan pembangunan drainase dan gorong-gorong di kawasan permukiman.
Surabaya (beritajatim.com) – DPRD Surabaya mengungkap adanya kawasan permukiman yang tidak tersentuh pembangunan infrastruktur pengendalian banjir selama sekitar 10 tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah di Surabaya Utara terus menjadi langganan banjir setiap musim hujan.
Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Juliana Eva Wati, mengatakan hingga kini masih terdapat daerah yang belum mendapatkan pembangunan saluran air maupun drainase yang memadai meski persoalan banjir terus berulang setiap tahun.
“Ada daerah di Surabaya selalu banjir tidak ada pembangunan 10 tahun terakhir sudah pernah dimasukkan dakel tapi tidak ada kejelasan sampai hari ini,” ungkap Juliana Eva Wati, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, banjir yang terus terjadi memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Ketiadaan sistem drainase yang memadai membuat air hujan cepat meluap dan menggenangi jalan hingga masuk ke rumah-rumah warga.
Juliana menyebut wilayah yang masih menjadi langganan banjir antara lain berada di kawasan Kedinding Nusa Indah, Kedinding Rambutan, serta Sidotopo. Bahkan, genangan air di beberapa lokasi disebut semakin tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Wilayah tersebut terletak di daerah Kedinding Nusa Indah dan Kedinding Rambutan, ada pula di wilayah Sidotopo yang semakin ke sini semakin naik air genangan saat hujan,” jelas politisi muda dari PAN tersebut.
Ia menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan target Pemerintah Kota Surabaya yang selama ini berupaya mengurangi jumlah kawasan rawan banjir. Karena itu, berbagai keluhan masyarakat akan diperjuangkan melalui jalur legislatif agar masuk dalam agenda prioritas pembangunan daerah.
“Saat ini akan kami ajukan sebagai aspirasi dari masyarakat melalui Ning Juliana, melihat hal ini sepertinya tidak berbanding lurus dengan target Surabaya yang akan mengurangi daerah banjir,” tegasnya.
Juliana juga mendesak pemerintah kota untuk lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur dasar di kawasan permukiman yang selama ini kurang tersentuh pembangunan. Menurutnya, pemerataan pembangunan harus menjadi prioritas agar seluruh warga merasakan manfaat yang sama.
Ia berharap pembangunan gorong-gorong dan sistem drainase dapat difokuskan pada wilayah permukiman yang sering terdampak banjir, terutama kawasan yang berada di daerah terpencil dan padat penduduk.
“Harap diutamakan area pemukiman warga yang terpencil dan banjir untuk pembangunan gorong-gorong supaya pemerataan pembagunan di Kota Surabaya tercapai,” pungkasnya. [asg/beq]






