Surabaya (beritajatim.com)- Pernahkah Anda merasa tiba-tiba ingin melakukan hal lain setiap kali teringat skripsi yang belum dikerjakan? Jika iya, anda tidak sendirian. Banyak mahasiswa merasa cemas hanya karena memikirkan judul penelitian mereka sendiri. Fenomena ini bukan sekadar rasa malas, melainkan reaksi psikologis yang nyata. Skripsi sering terasa seperti “monster” besar yang menakutkan dan siap menghantui kapan saja.
Salah satu penyebab utamanya adalah karena skripsi terasa sangat besar dan rumit. Bagi banyak mahasiswa, ini adalah proyek paling panjang dan paling sulit selama masa kuliah. Membayangkan harus menulis puluhan hingga ratusan halaman bisa terasa seperti berdiri di depan gedung tinggi tanpa tahu cara menaikinya. Akibatnya, rasa kewalahan muncul bahkan sebelum mulai mengetik satu kalimat pun.
Selain itu, banyak mahasiswa takut terhadap penilaian orang lain. Ada kecemasan tentang bagaimana dosen pembimbing atau penguji akan menilai hasil kerja mereka. Kritik terhadap tulisan sering kali terasa seperti kritik terhadap kemampuan diri sendiri. Ketakutan dianggap “tidak pintar” inilah yang membuat banyak orang akhirnya sulit mulai menulis.
Ekspektasi yang terlalu tinggi juga sering menjadi jebakan. Banyak mahasiswa berpikir skripsi harus sempurna, luar biasa, dan berbeda dari penelitian lain. Padahal, keinginan untuk langsung menghasilkan karya yang sempurna justru membuat proses menulis semakin berat. Draf pertama sebenarnya tidak harus bagus. Yang penting, tulisan itu ada terlebih dahulu agar bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.
Kurangnya rasa percaya diri dalam menulis ilmiah juga memperbesar rasa takut tersebut. Selama kuliah, mahasiswa mungkin lebih sering mempelajari teori daripada benar-benar melatih kemampuan menulis panjang secara rutin. Saat harus menyusun penelitian yang formal dan teknis, muncul perasaan tidak siap dan takut salah. Bahkan, ada yang merasa seperti “penipu” karena merasa tidak cukup pintar untuk menyelesaikan skripsi.
Sayangnya, menunda skripsi justru membuat rasa takut semakin besar. Semakin lama dihindari, semakin berat beban yang terasa di pikiran. Anda sering berpikir menunda hari ini akan membuat diri lebih tenang, padahal sebenarnya hanya memindahkan stres itu ke diri kita di masa depan. Ketika tenggat waktu semakin dekat, rasa panik biasanya menjadi jauh lebih besar.
Lalu, bagaimana cara menghadapinya? Salah satu cara paling efektif adalah mengecilkan tugas tersebut. Jangan melihat skripsi sebagai “sesuatu yang berat”, tetapi ubah menjadi target kecil seperti “menulis satu paragraf hari ini”, “mencari referensi topik penelitian”, atau “membaca satu jurnal sore ini.”
Dengan mulai melangkah sedikit demi sedikit, anda sedang melatih diri bahwa skripsi bukan ancaman yang harus ditakuti, melainkan proses yang memang bisa diselesaikan secara perlahan. [Wakhdah Alisa Berliana]






