Ponorogo (beritajatim.com) – Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Romo H.R. Muhammad Syafi’i, mengungkapkan adanya tantangan serius yang tengah dihadapi dunia pesantren.
Menurutnya, terdapat narasi negatif yang terus bermunculan dan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak di pondok pesantren.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Sarasehan Nasional dalam rangka Milad ke-100 Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo. Di hadapan ribuan kiai, santri, dan tamu undangan, Wamenag menegaskan pemerintah tengah menyusun langkah strategis untuk menjaga marwah pesantren.
“Saya melihat ada satu kelompok yang bekerja secara sistematis mengurangi kepercayaan orang tua memasukkan anaknya ke pesantren. Saat musim penerimaan santri baru, selalu muncul narasi negatif tentang pesantren yang berdampak pada turunnya jumlah pendaftar,” ungkap Muhammad Syafi’i dalam sambutannya, Sabtu(20/6/2026).
Dia mengatakan, Kementerian Agama bersama tim penasihat menteri telah beberapa kali menggelar pertemuan guna merumuskan skema baru untuk menghapus stigma negatif tersebut. Upaya itu, kata dia, tetap mengedepankan kehormatan dan kesucian lembaga pesantren.
“Kami sedang merumuskan skema agar narasi negatif itu bisa dihentikan tanpa menurunkan marwah dan citra pesantren. Mohon doa para kiai agar ikhtiar ini berhasil,” katanya.
Pada kesempatan itu, Wamenag juga menyampaikan salam dan apresiasi Presiden Prabowo Subianto atas usia satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor. Presiden, kata dia, menilai keberhasilan Gontor bertahan hingga 100 tahun, merupakan bukti kuatnya menjaga nilai keikhlasan, kemandirian, gotong royong, penghormatan kepada ilmu, guru, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Presiden sangat bangga kepada Gontor. Beliau bahkan menyebut Gontor layak menjadi warisan budaya tak benda bangsa Indonesia karena berhasil menjaga nilai-nilai luhur selama satu abad,” ungkapnya.
Menurut Wamenag, perjalanan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah pesantren. Mulai dari masa persiapan kemerdekaan hingga mempertahankan kemerdekaan melalui Resolusi Jihad, pesantren selalu hadir sebagai kekuatan moral dan kebangsaan.
“Sejarah Indonesia tidak akan utuh jika tidak mencantumkan peran pesantren. Semangat pesantren mengantarkan Indonesia merdeka dan mempertahankan kemerdekaan,” tegasnya.
Dia menambahkan, kontribusi pesantren juga terlihat pada berbagai jabatan strategis di pemerintahan yang kini banyak diisi alumni pesantren. Hal tersebut menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya melahirkan ulama, tetapi juga pemimpin bangsa.
Selain itu, pemerintah terus memperkuat keberadaan pesantren melalui implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan penguatan kelembagaan di Kementerian Agama. Kebijakan tersebut diharapkan membuat pesantren semakin optimal menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, sekaligus pemberdayaan masyarakat.
“Negara memberikan amanah kepada pesantren untuk menjalankan tiga fungsi sekaligus, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ini bentuk penghargaan pemerintah terhadap pesantren,” jelasnya.
Dalam pidatonya, Wamenag juga mengajak pesantren memperkuat sektor ekonomi umat melalui wakaf produktif, pengembangan usaha, hingga kolaborasi dengan berbagai kementerian. Menurutnya, pemerintah siap mendampingi pesantren yang mengembangkan sektor pertanian, kelautan, maupun kewirausahaan.
Ia menilai pesantren memiliki modal besar untuk melahirkan generasi yang mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan pesantren harus terus diperkuat.
Menutup sambutannya, Wamenag berharap pesantren mampu menjawab tantangan zaman dengan menguasai teknologi tanpa kehilangan akhlak. Baginya, pesantren telah terbukti mampu melewati berbagai fase sejarah bangsa dan kini dituntut menjadi motor pembangunan karakter serta pemberdayaan ekonomi umat.
“Pesantren harus memimpin pembangunan karakter bangsa, pemberdayaan ekonomi umat, penguatan wakaf produktif, dan menguasai teknologi tanpa kehilangan akhlak. Dari pesantren untuk Indonesia, dari Indonesia untuk peradaban dunia,” pungkasnya.(end/ted)






