RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 42 anggota keluarga besar Bani Sawijaya asal Dieng, Banjarnegara, berangkat haji bersama pada musim haji 2026.
- Seluruh anggota keluarga yang berangkat tersebut berprofesi sebagai petani sayuran dan kentang.
- Pendaftaran dilakukan secara terpisah sejak 2012–2013 tanpa saling tahu karena menghindari sifat riya.
- Jemaah berhasil beradaptasi dengan kontrasnya suhu ekstrem Makkah yang mencapai 47 derajat Celsius.
Madinah (beritajatim.com) — Sebanyak 42 orang yang berasal dari satu rumpun keluarga besar, yakni Bani Sawijaya asal Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menorehkan kisah inspiratif dengan berhasil menunaikan ibadah haji bersama-sama pada musim haji 1447 H/2026 M. Keberangkatan puluhan anggota keluarga dalam satu musim yang sama ini menjadi fenomena unik yang mengundang decak kagum.
Tergabung dalam Kloter 71 Embarkasi SOV, puluhan jemaah ini awalnya tidak pernah merencanakan untuk berangkat secara kolektif. Pendaftaran porsi haji justru dilakukan secara terpisah dan mandiri dalam rentang waktu tahun 2012 hingga 2013 silam.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kekompakan keluarga besar ini menjadi warna tersendiri di tanah suci, di mana mereka saling menjaga satu sama lain, khususnya saat menghadapi kepadatan fase ibadah.
Salah satu anggota jemaah, Subianto, mengaku sempat terheran-heran saat mendapati nama puluhan kerabatnya masuk dalam manifes keberangkatan yang sama setelah proses validasi dokumen dan manasik haji tingkat kabupaten diselenggarakan.
“Awalnya kami juga heran. Setelah ada pemanggilan dan manasik haji, ternyata banyak sekali keluarga yang masuk dalam daftar keberangkatan tahun ini. Padahal waktu mendaftarnya tidak bersama-sama,” ujar Subianto pada Rabu (17/6/2026).
Menariknya, rahasia di balik keberangkatan massal ini tak lepas dari kebiasaan unik internal mereka. Sueny, anggota keluarga lainnya, membeberkan bahwa para kerabat memiliki prinsip kuat untuk tidak saling mengumumkan perihal pendaftaran rukun Islam kelima ini guna menjaga kesucian niat di hati.
“Kami takut dikira sombong atau riya, jadi tidak ada yang tahu kalau daftar haji,” ungkap Sueny.
Kesamaan profesi sebagai petani sayuran dan komoditas kentang di kawasan dataran tinggi Dieng menjadi pengikat keseharian mereka. Berkat ketekunan menyisihkan hasil bumi dari sektor pertanian, mayoritas anggota keluarga Bani Sawijaya ini memperoleh kepastian berangkat seiring dengan pergerakan antrean haji regional Jawa Tengah.
Keberangkatan Bani Sawijaya mendominasi total kuota keberangkatan di desanya. Dari total 53 warga Desa Karangtengah yang berangkat haji tahun 2026 ini, sekitar 42 hingga 43 jemaah merupakan bagian dari ikatan keluarga besar tersebut. Fenomena ini merata hampir di seluruh wilayah administrasi desa, di mana 9 dari 10 RT yang ada dipastikan mengirimkan keterwakilan jemaah haji.
Selain dinamika kebersamaan, para petani Dieng ini dihadapkan pada tantangan adaptasi cuaca yang sangat kontras. Terbiasa dengan iklim pegunungan Dieng yang dingin dan bahkan dapat menyentuh minus 1 hingga minus 2 derajat Celsius pada musim-musim tertentu, mereka kini harus bertahan di bawah paparan terik matahari Makkah yang menembus angka 40 hingga 47 derajat Celsius.
Kendati demikian, mitigasi kesehatan yang disosialisasikan petugas terlaksana dengan baik di lapangan. Penggunaan alat pelindung diri seperti payung, tabir surya (sunblock), serta pemenuhan cairan tubuh secara berkala menjadi kunci utama jemaah Dieng tetap fit.
“Alhamdulillah tidak ada jemaah kami yang mengalami gangguan berarti akibat cuaca. Tantangan terbesar justru dirasakan saat berjalan dari terminal menuju Masjidil Haram atau ketika berada di area terbuka. Sementara saat berada di hotel maupun di dalam Masjidil Haram, kondisi relatif nyaman karena fasilitas pendingin udara yang memadai,” tutup Subianto. [ian/MCH]






