Pasuruan (beritajatim.com) – Pemerintah daerah terus berkomitmen memotong mata rantai putus sekolah dengan memperluas jangkauan akses pendidikan bagi kelompok masyarakat marginal.
Kebijakan ini menyasar pemukiman rentan agar seluruh generasi muda di wilayah Pasuruan memiliki kesempatan yang sama dalam meraih masa depan yang lebih baik.
Fokus penyerapan peserta didik baru pada momentum pergantian tahun ajaran ini diprioritaskan bagi keluarga yang berada dalam klaster prasejahtera ekstrim. Langkah jemput bola di lapangan sengaja digalakkan guna menyisir area-area terpencil yang selama ini luput dari pendataan reguler instansi terkait.
“Saya harap tidak ada masyarakat kita atau anak-anak kita yang tidak bersekolah,” ujar Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo saat memberikan pemaparan program. Pihaknya menegaskan bahwa anak-anak dari kalangan rentan seperti kaum pemulung yang belum memiliki kartu identitas resmi tetap berhak mendapatkan pelayanan edukasi formal secara gratis di Sekolah Rakyat.
Mekanisme penyaringan calon siswa di tingkat bawah kini dikerjasamakan secara terpadu dengan melibatkan jaringan pendamping program jaminan sosial pemerintah. Sinergi ini dinilai lebih efektif untuk memastikan bantuan fasilitas pendidikan tersebut benar-benar tepat sasaran kepada yang membutuhkan.
Di sisi lain, proyek pengerjaan infrastruktur gedung sekolah baru di kawasan Gondangwetan dilaporkan menunjukkan tren kemajuan yang sangat positif dan berjalan sesuai target. Pihak otoritas terus memantau pemenuhan fasilitas penunjang di lokasi agar kenyamanan kegiatan belajar mengajar nantinya dapat terjamin dengan baik.
Meski target penyelesaian fisik sudah di depan mata, operasional penggunaan gedung secara resmi masih harus menunggu evaluasi teknis dari pihak pengembang. Pemerintah daerah enggan gegabah dalam menentukan tenggat waktu pembukaan gerbang sekolah sebelum seluruh aspek keamanan bangunan dipastikan aman.
“Proses untuk Sekolah Rakyat Kabupaten Pasuruan di Gondangwetan sudah menunjukkan kemajuan lebih dari tujuh puluh persen,” tambah pria yang akrab disapa Mas Rusdi tersebut. Hubungan komunikasi dengan pihak pelaksana proyek terus dijaga ketat agar penyempurnaan fasilitas ruang kelas tidak mengalami keterlambatan.
Kehadiran lembaga pendidikan khusus ini diharapkan mampu menjadi solusi konkret atas tingginya angka anak putus sekolah di kawasan pinggiran. Ke depan, pemkab berencana melengkapi fasilitas sekolah tersebut dengan program pelatihan keterampilan kerja agar para lulusannya siap bersaing di dunia industri. (ada/ted)






