Ringkasan Berita:
- Jalan poros kabupaten yang menghubungkan enam desa di Bangkalan mengalami longsor sepanjang sekitar 30 meter.
- Kerusakan dipicu pergeseran tanah akibat tingginya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir.
- Anggota DPRD Bangkalan Mohammad Mosleh melakukan perbaikan darurat secara swadaya.
- Perbaikan dilakukan agar akses utama masyarakat tetap dapat dilalui dengan aman.
Bangkalan (beritajatim.com) – Akses jalan kabupaten yang menghubungkan enam desa di Kabupaten Bangkalan mengalami kerusakan parah akibat longsor. Kondisi tersebut mengancam kelancaran aktivitas masyarakat sekaligus berpotensi memutus jalur utama yang selama ini menjadi penghubung antardesa.
Longsor terjadi di jalan poros kabupaten yang menghubungkan Desa Paterongan, Daleman, Tellok, Blateran, Alasrajeh, dan Kelbung. Material tanah ambles sepanjang sekitar 30 meter dengan ketinggian mencapai lima meter.
Jalan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga mengangkut hasil pertanian.
Menindaklanjuti laporan warga, anggota DPRD Kabupaten Bangkalan dari Partai Perindo, Mohammad Mosleh, turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi jalan yang rusak.
Ia kemudian melakukan penanganan darurat secara swadaya agar kerusakan tidak semakin meluas dan akses masyarakat tetap dapat digunakan.
Menurut Mosleh, longsor dipicu kondisi tanah yang labil sehingga terus mengalami pergeseran. Situasi tersebut diperparah oleh tingginya intensitas hujan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
“Tidak stabilnya tanah menyebabkan pergeseran. Kondisi ini dipengaruhi oleh curah hujan yang cukup tinggi,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Ketua DPD Partai Perindo Bangkalan itu menjelaskan, retakan tanah terus berkembang hingga merambat ke badan jalan yang sebelumnya juga pernah mengalami perbaikan.
Namun, karena kerusakan dinilai sangat mendesak, penanganan tidak memungkinkan menunggu proses penganggaran pemerintah yang membutuhkan waktu cukup panjang.
“Menunggu penganggaran tentu harus melalui prosedur dan proses yang memakan waktu. Karena ini sangat urgent dan menyangkut kebutuhan masyarakat, kami melakukan perbaikan secara swadaya agar akses jalan tetap bisa digunakan warga,” katanya.
Mosleh menegaskan, perbaikan darurat tersebut merupakan langkah awal untuk menjaga konektivitas enam desa sekaligus memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan.
Menurutnya, keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas utama selama proses penanganan berlangsung.
“Butuh segera diperbaiki, sebab jalan ini merupakan akses utama yang dilalui warga setiap hari. Yang kami kejar saat ini adalah bagaimana masyarakat bisa melintas dengan aman,” pungkasnya. [sar/beq]






