Ringkasan Berita:
- Video dugaan penendangan seorang skater di Skatepark Alun-Alun Magetan viral di media sosial.
- Komunitas menyebut insiden bermula saat skater mengingatkan pengunjung agar anaknya tidak bermain di area skatepark.
- Skater berharap pemerintah menambah pembatas, penerangan, dan CCTV untuk meningkatkan keamanan kawasan.
- DLH Magetan memasang imbauan bahwa skatepark diperuntukkan sebagai fasilitas olahraga, bukan area bermain anak.
Magetan (beritajatim.com) – Insiden yang melibatkan komunitas skateboard dan seorang pengunjung di Skatepark Alun-Alun Magetan menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Seorang skater dilaporkan menjadi korban dugaan kekerasan setelah menegur pengunjung yang membiarkan anaknya bermain di area skatepark yang saat itu sedang digunakan untuk berlatih.
Peristiwa itu bermula ketika sejumlah skater tengah beraktivitas di Skatepark Alun-Alun Magetan. Menurut keterangan komunitas skateboard setempat, seorang pria datang bersama anaknya dan membiarkan sang anak bermain di area skatepark.
Para skater mengaku telah mengingatkan secara baik-baik bahwa area tersebut merupakan fasilitas khusus untuk olahraga skateboard dan memiliki risiko tinggi bagi anak-anak. Mereka juga menyarankan agar anak tersebut bermain di area playground yang berada tepat di sisi timur skatepark.
Namun, imbauan tersebut disebut tidak mendapat respons dari pengunjung. Para skater kemudian melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa.
Tak lama berselang, saat salah seorang skater meluncur melintasi area dekat pengunjung tersebut, pria itu diduga melakukan tindakan agresif dengan menendang ke arah skater. Beruntung tendangan tersebut tidak mengenai korban.
Salah satu pehobi skateboard Magetan, Yusuf Rahman Cahyo Kusna, mengatakan komunitas skater selama ini selalu berupaya menjaga keamanan area sebelum bermain.
“Kami biasanya melakukan clear area terlebih dahulu. Kalau ada anak-anak kecil, pasti kami ajak bicara baik-baik. Kalau anaknya belum paham, biasanya kami sampaikan kepada orang tuanya,” ujar Yusuf.
Ia menegaskan tujuan para skater bukan melarang anak-anak bermain, melainkan mencegah terjadinya kecelakaan karena skatepark merupakan fasilitas olahraga ekstrem dengan risiko cedera yang cukup tinggi.
“Padahal tempat bermain anak sudah ada di sebelah timur. Ketika teman-teman sedang bermain, minimal area harus steril dulu supaya tidak membahayakan siapa pun,” katanya.
Menurut Yusuf, keberadaan anak-anak di area skatepark sebenarnya bukan hal baru. Selama ini para skater dan pengunjung umumnya dapat saling memahami setelah diberikan penjelasan.
Karena itu, ia menyayangkan tindakan pengunjung yang diduga bereaksi secara emosional meski sebelumnya telah diberikan penjelasan.
“Teman-teman sudah menyampaikan dengan baik-baik. Tapi kemudian ada tindakan yang menurut kami menghakimi sepihak,” ujarnya.
Selain menyoroti insiden tersebut, komunitas skateboard Magetan kembali menyuarakan perlunya peningkatan fasilitas keselamatan di Skatepark Alun-Alun Magetan.
Yusuf mengungkapkan skatepark yang dibangun sekitar tahun 2016 itu hingga kini masih memiliki sejumlah keterbatasan, salah satunya belum adanya pembatas yang jelas antara area skatepark dan playground di sebelahnya.
Akibatnya, anak-anak kerap keluar masuk area bermain skateboard saat aktivitas berlangsung sehingga berpotensi membahayakan pengunjung maupun skater.
“Area playground dan skatepark itu tidak ada pembatas yang jelas. Kadang anak-anak tiba-tiba masuk ke area yang sedang dipakai bermain. Ini tentu berisiko bagi mereka maupun bagi skater,” jelasnya.
Komunitas skateboard juga berharap pemerintah daerah dapat menambah fasilitas pendukung seperti penerangan dan kamera pengawas (CCTV) untuk meningkatkan keamanan kawasan.
“Dari dulu kami berharap ada lampu yang memadai. Kalau malam lebih terang dan kalau ada CCTV tentu kejadian-kejadian seperti ini bisa lebih mudah diketahui kronologinya,” kata Yusuf.
Tak hanya itu, para skater juga mengusulkan rehabilitasi ringan terhadap sejumlah fasilitas skatepark yang dinilai sudah kurang memadai untuk menunjang aktivitas olahraga tersebut.
Menurut Yusuf, skatepark telah menjadi ruang berekspresi sekaligus tempat berkumpul bagi generasi muda Magetan selama bertahun-tahun. Karena itu, ia berharap perhatian terhadap fasilitas tersebut dapat terus ditingkatkan agar aman digunakan seluruh pengunjung.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang diterima komunitas skateboard, persoalan antara kedua belah pihak disebut telah diselesaikan secara damai. Meski demikian, para skater berharap insiden serupa tidak terulang dan menjadi momentum meningkatkan kesadaran bersama mengenai fungsi masing-masing fasilitas publik di kawasan Alun-Alun Magetan.
Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magetan, Sriatun, mengatakan pihaknya telah memasang papan imbauan bahwa skatepark tidak diperuntukkan sebagai area bermain anak.
“Kami memasang imbauan bahwa skatepark digunakan untuk olahraga bukan untuk bermain. Di kawasan Alun-Alun Magetan juga ada tim pranata taman nanti sekalian bisa mensosialisasikan juga kepada pengunjung terkait imbauan ini,” katanya. [fiq/beq]






