Ringkasan Berita:
- Stefani Gabriela, seorang content creator asal Surabaya, meluncurkan buku perdana bertema trauma keluarga dan proses healing berjudul ‘Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga’.
- Peluncuran buku digelar di Kkado Chicken Tegalsari, Surabaya, dan dirangkai dengan sesi refleksi “Teman Curhat” yang menghadirkan ruang aman berbagi pengalaman.
- Buku ini mengangkat isu kesehatan mental, trauma lintas generasi, hingga upaya membangun keluarga yang lebih sehat secara emosional tanpa solusi instan.
Surabaya (beritajatim.com) – Isu kesehatan mental, trauma keluarga, dan pola pengasuhan yang diwariskan lintas generasi semakin banyak mendapat perhatian, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z.
Fenomena ini turut mendorong seorang kreator konten sekaligus penulis asal Surabaya, Stefani Gabriela, untuk merilis buku perdananya yang berjudul ‘Setelah Aku Cut Off Warisan Trauma Keluarga’.
Buku tersebut resmi diperkenalkan kepada publik dalam acara peluncuran yang digelar di Kkado Chicken Tegalsari, Surabaya, Minggu (14/6/2026). Peluncuran ini tidak hanya menjadi momen perkenalan karya, tetapi juga ruang interaksi emosional yang dikemas dalam kegiatan bertajuk ‘Teman Curhat’.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak berbagi pengalaman hidup, menuliskan luka batin yang selama ini dipendam, hingga melakukan simbolisasi pelepasan beban emosional. Konsep ini dirancang untuk menciptakan ruang aman tanpa penghakiman, sekaligus memperkuat pesan utama buku tentang proses pemulihan diri.
Dalam karyanya, Stefani mengangkat tema yang selama ini kerap dianggap sensitif untuk dibicarakan secara terbuka, yakni warisan trauma keluarga yang tanpa disadari dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Topik yang dibahas mencakup trauma keluarga, emotional wounds, healing, overthinking, hingga upaya membangun keluarga yang lebih sehat secara emosional.
“Buku ini bukan tentang membenci keluarga atau memutus hubungan. Buku ini tentang keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri, mengenali luka yang ada, dan memilih untuk tidak meneruskan rasa sakit itu kepada generasi berikutnya, terutama kepada anak-anak kita,” ujar Stefani.
Ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk menjadi generasi pertama yang memutus rantai trauma dalam keluarga. “Misi hidupku sederhana, creating the family I wish I had dan aku percaya siapa pun bisa menjadi generasi pertama yang memilih itu,” katanya.
Stefani juga menekankan bahwa bukunya tidak menawarkan jalan pintas dalam proses penyembuhan. Sebaliknya, ia menghadirkan pendekatan yang jujur dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari, sehingga pembaca dapat memahami bahwa proses healing adalah perjalanan yang tidak selalu mudah.
“Aku ingin setiap orang yang datang pulang dengan perasaan lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian,” tuturnya.
Melalui buku perdananya ini, Stefani berharap dapat menjadi teman perjalanan bagi siapa saja yang sedang berusaha berdamai dengan masa lalu, memahami diri sendiri, dan membangun masa depan keluarga yang lebih sehat secara emosional. [way/suf]






