Ringkasan Berita:
- Mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang mengolah sampah plastik menjadi produk dekorasi furniture bernilai ekonomi di Kelurahan Gadingkasri, Kota Malang.
- Program ini mengintegrasikan desain interior, kewirausahaan, hingga public relations untuk menciptakan produk daur ulang yang tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki cerita dan nilai jual.
- Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang menilai inovasi ini sejalan dengan konsep 3R dan berpotensi menjadi contoh pengembangan bank sampah di daerah.
Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang menghadirkan inovasi pengelolaan sampah plastik menjadi produk dekorasi furniture bernilai ekonomi.
Program ini dijalankan di Kelurahan Gadingkasri (Kelurahan Gadingkasri), Kecamatan Klojen, Kota Malang, dengan fokus pada pengurangan sampah sekaligus pemberdayaan masyarakat melalui inovasi desain dan kewirausahaan.
Student Development Associate Manager Binus Malang, Yoseph Benny Kusuma, menjelaskan bahwa program ini melibatkan lintas disiplin ilmu agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara desain, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang kompetitif di pasar.
“Dari program studi Desain Interior itu yang berfokus untuk mendesain produknya. Kemudian untuk melihat nilai jualnya seperti apa, kami mengundang dosen-dosen dari Kewirausahaan. Sehingga produk yang dibuat itu bukan hanya bagus, tapi juga bisa menguntungkan,” kata Student Development Associate Manager Binus Malang, Yoseph Benny Kusuma, Minggu (14/6/2026).
Ia menambahkan, pendampingan kepada masyarakat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai program studi, termasuk Public Relations, untuk memperkuat narasi produk daur ulang agar memiliki daya tarik sosial dan emosional bagi konsumen.
Kolaborasi antar prodi ini diharapkan membuat setiap produk tidak hanya bernilai guna, tetapi juga memiliki cerita yang mampu meningkatkan minat beli masyarakat.
“Semua produk-produk ini punya cerita. Jadi orang membeli bukan karena fungsinya, tapi karena ceritanya. Mereka menjadi bagian dari perubahan, menjadi orang yang peduli terhadap lingkungan,” kata Benny.
Benny juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam penanganan persoalan sampah di Kota Malang yang tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak.
“Masalah sampah di Malang itu juga banyak sekali. Kami memudahkan, dari awal sudah bisa pilah terlebih dahulu kalau kemudian dijual begitu saja harganya tentu akan murah,” katanya.
Ia berharap program ini dapat menjadi titik awal pengembangan inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
“Harapan kami dengan Klampokasri ini menjadi starter awal bahwa tutup botol yang tadinya dinilai tidak bermakna, dengan pengelolaan yang baik ternyata bisa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” lanjut Benny.
Dari sisi pemerintah daerah, Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang (Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang), Gamaliel Raymond Matondang, menyebut program ini sejalan dengan konsep pengelolaan sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sudah diterapkan selama ini.
Ia menilai inovasi tersebut dapat memperkuat peran bank sampah yang selama ini masih menjual hasil pengumpulan dalam bentuk bahan mentah.
“Salah satu program pemerintah dalam pengelolaan sampah adalah 3R, yaitu reduce, reuse, recycle. Nah, yang dilakukan saat ini adalah recycle, bagaimana sampah bisa menjadi sesuatu yang berguna dan dapat dijual Kembali,” katanya.
“Di Kota Malang hari ini sudah ada 400 bank sampah. Selama ini mereka menjual tutup botol, botol plastik, dan kresek dalam bentuk mentah. Hari ini ada inovasi bagaimana tutup botol ini tidak dijual dalam bentuk tutup, tetapi dalam bentuk barang yang lebih mahal harganya,” pungkas Raymond. [luc/suf]






