Ngawi (beritajatim.com) – Seorang santri Pondok Pesantren Miftahul Jannah di Desa Mantingan, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, dilaporkan tenggelam di Sungai Bengawan Solo saat mandi bersama 13 rekannya pada Kamis (11/6/2026) sore. Korban bernama Muhamad Maulana Rifai (14) hingga malam hari masih belum ditemukan.
Peristiwa tersebut memicu kepanikan di kalangan santri dan warga sekitar. Suasana haru menyelimuti lokasi kejadian ketika ibu korban, Jumiati (40), warga Desa Mlale, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, datang ke tepi sungai setelah menerima kabar bahwa putranya tenggelam. Tangis histeris tak terbendung saat ia mengetahui anaknya belum berhasil ditemukan.
Sejumlah teman korban yang turut berada di lokasi tampak meminta maaf kepada ibu korban. Mereka mengaku tidak mampu menyelamatkan Rifai saat insiden terjadi. Di sekitar lokasi, petugas menemukan sejumlah barang milik korban berupa sarung, kaos, dan sandal yang ditinggalkan di tepi sungai.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula ketika korban bersama 13 santri lainnya mandi di pinggir Sungai Bengawan Solo yang berjarak tidak jauh dari lingkungan pondok pesantren. Saat itu korban diduga mencoba berenang ke bagian tengah sungai.
Namun, arus sungai yang cukup kuat dan kedalaman yang mencapai sekitar empat hingga lima meter membuat korban kesulitan bertahan hingga akhirnya tenggelam. Teman-temannya yang panik sempat berupaya memberikan pertolongan menggunakan sebatang bambu, tetapi usaha tersebut tidak berhasil.
Relawan yang berada di lokasi, Joko Tris, menjelaskan kronologi singkat kejadian tersebut.
“Dia mandi disungai bersama 13 temannya korban ketengah dan tenggelam sempat muncul dan ditolong temannya namun gagal korban santri pondok,” ujarnya.
Mendapat laporan dari warga, aparat kepolisian segera mendatangi lokasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan penanganan. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar), serta relawan setempat langsung diterjunkan untuk melakukan pencarian.
Kasi Penyelamatan Damkar Ngawi, Rohmad Angga, mengatakan proses pencarian menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi arus sungai yang cukup deras.
“Kita kesulitan karena air cukup deras kita tunggu basarnas sungai sangat dalam dan belim di temukan,” katanya.
Sementara itu, Kapolsek Mantingan, IPTU Andy Wijayanto, membenarkan adanya laporan dugaan orang tenggelam yang melibatkan seorang santri pondok pesantren.
“ada laporan diduga anak tenggelam kita datang ke lokasi kita kordinasi dengan pihak terkair korban santri pondok,” ujar Andy.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak-anak dan remaja di kawasan perairan terbuka, terutama sungai besar seperti Bengawan Solo yang memiliki karakter arus berubah-ubah serta kedalaman yang sulit diprediksi. Kondisi tersebut kerap meningkatkan risiko kecelakaan air, khususnya bagi mereka yang tidak memahami kondisi sungai secara menyeluruh.
Melihat kondisi ibu korban yang terus menangis, sejumlah warga berupaya memberikan bantuan dan menenangkannya. Hingga malam hari, pencarian terpaksa dihentikan karena faktor keselamatan dan keterbatasan jarak pandang.
Tim gabungan dijadwalkan melanjutkan operasi pencarian pada Jumat (12/6/2026) pagi dengan memperluas area penyisiran. Petugas juga menunggu kedatangan personel Basarnas Pos Bojonegoro untuk memperkuat upaya pencarian korban di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo. [fiq/aje]






