Taif (beritajatim.com) – Musim haji 1447 H baru saja melipat hamparan kisahnya, namun denyut spiritual di tanah para nabi belum benar-benar mereda. Di lereng Pegunungan Sarawat, sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut, rona Kota Taif bergeliat menyambut gelombang manusia.
Mereka adalah para tamu Allah yang enggan bergegas pulang sebelum membasuh batin dengan menelusuri jejak-jejak ketabahan syiar Islam masa lalu.
Langkah kaki ribuan peziarah itu bermuara ke Masjid Abdullah bin Abbas. Berdiri kokoh di jantung kota yang karib dengan aroma mawar asri dan hawa sejuk pegunungan, masjid ini bukan sekadar susunan batu dan ratusan tiang megah yang menampung 3.000 jemaah.
Tempat ini adalah sebentuk gerbang waktu, sebuah monumen hidup yang mengikat memori umat Muslim hari ini dengan air mata dakwah Rasulullah SAW dan tinta emas sang samudra ilmu.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) berkesempatan merasakan hiruk-pikuk spiritualitas begitu terasa hidup di pelataran luar masjid.
Para pedagang asal Bangladesh dan Pakistan menggelar lapak-lapak souq tradisional, menjajakan madu murni pegunungan hingga minyak wangi mawar yang aromanya berkelindan bersama semilir angin Taif.
Sejarah Masjid Abdullah Bin Abbas
Menilik akar sejarahnya, tanah tempat berdirinya masjid ini menyimpan narasi perubahan zaman yang mahadasyat. Berdasarkan lembar sejarah kuno tahun 630 Masehi atau tahun ke-8 Hijriah.
Tempat ini dulunya adalah pusat kegelapan—titik berdirinya berhala raksasa sembahan Suku Thaqif. Ketika Pengepungan Taif berakhir, berhala tersebut dihancurkan total hingga tak tersisa, menandai runtuhnya era jahiliah dan fajar baru tauhid di kota tersebut.
Di atas puing-puing berhala itulah, di titik di mana Rasulullah SAW pernah mendirikan salat dan melangitkan doa selama masa pengepungan, sebuah tempat sujud yang bersahaja mulai dibangun.
Kesucian tanah ini kian mengkristal di sisi timur masjid, tempat bersemayamnya jasad para sahabat Nabi yang gugur sebagai syuhada dalam pertempuran melawan Banu Thaqif.
Seiring waktu, arsitektur masjid ini terus bersalin rupa menembus sekat dinasti. Mulai dari rekonstruksi megah Era Abbasid di bawah Khalifah Al-Mustadi, ketegasan dinding pembatas Era Mamluk dan Ottoman pada tahun 1671, hingga perombakan total era modern tahun 1958 oleh Raja Saud bin Abdulaziz yang mengembalikan bentuk makam rata dengan tanah, sunyi dari ornamen berlebih demi menjaga kemurnian akidah.
Tempat Peristirahatan Abdullah bin Abbas RA
Nama agung masjid ini disematkan untuk menghormati sang penghuni bumi Taif, Abdullah bin Abbas RA. Dialah sepupu Rasulullah SAW yang sejak belia telah didekap oleh doa khusus dari lisan suci Nabi:
“Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.”
Doa itu mewujud nyata. Ibnu Abbas tumbuh menjadi rujukan utama umat, sang jembatan ilmu yang dijuluki Habr al-Ummah (Tinta Umat Islam) dan Bahrul ‘Ulum (Lautan Ilmu).
Di akhir hayatnya, kala badai fitnah politik mengguncang pusat kekuasaan Islam, sang fakih memilih menjauh dari kekuasaan. Ia memeluk sunyinya Taif untuk tetap mengajar hingga wafat pada tahun 687 Masehi (68 Hijriah).
Kini, makam sang ahli tafsir berada di balik pagar besi kokoh di halaman samping masjid. Pagar itu sengaja dikunci rapat dari kunjungan bebas guna mengantisipasi perilaku tabarruk atau pemburuan berkah yang tidak selaras dengan syariat.
Namun, ketatnya jeruji besi tak menghalangi para peziarah untuk berdiri takzim di luar batas, menundukkan kepala sembari melafalkan salam dan untaian doa bagi sang penjaga sabda.
Termasuk Suleman, seorang Ketua Rombongan jemaah asal Sukabumi, Jawa Barat, berdiri tertegun di pelataran masjid pada Rabu (10/6/2026). Ia sengaja membawa jemaahnya menanjaki jalur curam menuju Taif agar mereka mengerti betapa mahalnya harga sebuah keimanan.
“Ziarah ke Taif karena ini merupakan kota harapan Rasulullah. Di mana Rasul mendapatkan intimidasi dan embargo ekonomi di kala itu. Kita sekarang ke Abdullah bin Abbas, semoga kita juga sama menjadi orang-orang yang memperdalam ilmu agama. Aamiin,” ungkapnya kepada tim MCH di sela waktu menunggu Dzuhur. [ian/MCH]






