Ringkasan Berita:
- Lesbumi PBNU menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia di Unwaha Jombang pada 12-14 Juni 2026.
- Forum ini mendorong kebudayaan kembali menjadi arah pembangunan bangsa di tengah dominasi politik praktis.
- Muktamar sekaligus memperingati 100 tahun kelahiran Asrul Sani dan menghadirkan berbagai agenda seni, budaya, serta diskusi kebangsaan.
Jombang (beritajatim.com) – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia di Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, pada 12-14 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti aktivis Lesbumi dari tingkat cabang, wilayah hingga pusat.
Ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, menegaskan pentingnya mengembalikan kebudayaan sebagai arah pembangunan bangsa. Menurutnya, dominasi politik praktis telah mendorong generasi muda berpikir pragmatis dan menjauh dari idealisme.
“Sejauh ini, politik mendominasi kehidupan masyarakat kita. Politik praktis telah menjebak generasi muda bersikap dan berpikir pragmatis, jauh dari pemikiran ideal untuk perbaikan-perbaikan dan kemajuan bangsa. Lesbumi NU mencoba untuk merebut kembali kebudayaan sebagai panglima. Bukan politik sebagai panglima atau ekonomi sebagai panglima sebagaimana masa Orde Baru,” tutur Riadi melalui siaran pers, Kamis (11/6/2026).
Ia menilai Indonesia tengah menghadapi krisis moral dan multidimensi yang ditandai maraknya korupsi serta menurunnya adab dalam kehidupan sosial. Karena itu, masyarakat perlu kembali pada akar tradisi dan kearifan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
“Alangkah eloknya kita mempertimbangkan kearifan yang dibangun para leluhur. Islam tak terpisah dari Kejawaan, Islam erat dan identik dengan Kemelayuan, dan erat denga tradisi-tradisi masyarakat kita, seperti Sunda, Bugis Makassar, Banjar, dll. Memperbaiki nasib bangsa demi kemajuan, dengan mudah dilakukan karena kita kaya akan khazanah tradisi budaya di masyarakat,” katanya.
Ketua Lesbumi PBNU KH Muhammad Jadul Maula menjelaskan, muktamar ini juga menjadi momentum memperingati 100 tahun kelahiran Asrul Sani, tokoh pendiri Lesbumi sekaligus pemikir kebudayaan penting Indonesia.
“Bukan semata-mata figurnya, tapi sebetulnya kita ingin menggali lagi pemikiran kebudayaan beliau, yang sampai sekarang sebetulnya masih relevan,” ujarnya.
Menurut Kiai Jadul, Asrul Sani memandang kebudayaan sebagai sarana mendidik manusia dengan tiga pilar utama, yakni agama, ilmu pengetahuan, dan seni yang harus berjalan selaras.
Muktamar direncanakan dibuka Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan menghadirkan intelektual, ulama, seniman, budayawan, akademisi hingga politikus. Selain forum diskusi, agenda juga diisi pameran pusaka, karya seni, kaligrafi, pertunjukan ludruk, tari topeng, macapatan, kerajinan, serta orasi kebudayaan.
Panitia lokal, Ki Wasis, mengatakan muktamar dirancang sebagai ruang pertemuan lintas kalangan untuk melahirkan gagasan kebudayaan yang berakar pada tradisi sekaligus memiliki nilai ekonomi kreatif.
“Di tengah kondisi ekonomi yang sumpek, muktamar ini diharapkan menyegarkan lewat gagasan seni-budaya yang mengakar tradisi tapi punya nilai ekonomi kreatif,” katanya.
Lesbumi berharap Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 menghasilkan rekomendasi strategis bagi penguatan seni dan budaya sebagai sarana amar ma’ruf nahi munkar, sekaligus memperkuat jati diri bangsa menuju Indonesia Emas. [suf]






