Ringkasan Berita:
- Warga di Pasuruan menghiasi kampung dengan bendera negara peserta Piala Dunia 2026.
- Tradisi tersebut dilakukan secara swadaya sebagai bentuk kecintaan terhadap sepak bola.
- Bendera negara yang tersingkir akan diturunkan sebagai bentuk sportivitas.
- Tradisi ini telah berlangsung sejak penyelenggaraan Piala Dunia di Amerika Serikat.
Pasuruan (beritajatim.com) – Atmosfer menyambut Piala Dunia 2026 mulai terasa di salah satu kawasan permukiman di Kabupaten Pasuruan. Warga secara swadaya menghiasi lingkungan kampung dengan bendera negara-negara peserta sebagai bentuk antusiasme menyambut turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Sepanjang jalan utama desa dipenuhi bendera berbagai negara yang dijagokan warga menjadi juara. Tradisi yang lahir dari kecintaan masyarakat terhadap sepak bola itu pun menarik perhatian para pengguna jalan yang melintas.
“Spanyol pasti juara soalnya pemain muda semua, ada Yamal pemain terbaik saat ini yang akan membawa juara,” ujar salah seorang warga pendukung Timnas Spanyol, Samian.
Ia mengaku sengaja memasang bendera negara favoritnya di lokasi yang mudah terlihat sebagai bentuk dukungan kepada tim yang dijagokannya.
Pemandangan tersebut merupakan inisiatif murni masyarakat tanpa instruksi dari pihak mana pun. Ukuran dan jumlah bendera yang dipasang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga.
“Sejak Piala Dunia edisi puluhan tahun lalu di Amerika, desa ini memang sudah mulai rutin mengibarkan bendera negara peserta,” ungkap tokoh masyarakat yang juga aparatur desa, Hasani.
Menurutnya, seluruh biaya pembuatan dan pemasangan bendera ditanggung secara mandiri oleh warga sebagai bentuk partisipasi dalam menyemarakkan Piala Dunia.
Tradisi di kampung tersebut juga memiliki aturan yang disepakati bersama. Warga yang tim favoritnya tersingkir wajib menurunkan bendera negaranya sebagai bentuk sportivitas.
“Sportif negara yang kalah akan turun benderanya, yang juara nanti kita buat acara makan-makan bersama,” tambah Hasani.
Syukuran bersama itu menjadi penutup tradisi yang telah dijalankan warga selama bertahun-tahun setelah turnamen berakhir.
Bagi masyarakat setempat, tradisi menghias kampung dengan bendera negara peserta tidak sekadar menjadi bentuk hiburan saat Piala Dunia berlangsung. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat. [ada/beq]






