Ringkasan Berita:
- Peningkatan kasus pertusis di Indonesia mendorong pentingnya vaksinasi Tdap sebagai perlindungan terhadap batuk rejan.
- Dokter National Hospital Surabaya menyebut vaksin Tdap berfungsi sebagai booster untuk mencegah tetanus, difteri, dan pertusis.
- Vaksin Tdap direkomendasikan bagi anak, remaja, orang dewasa, serta ibu hamil pada usia kehamilan 27–36 minggu.
- Antibodi yang terbentuk setelah ibu hamil menerima vaksin Tdap dapat melindungi bayi sejak lahir sebelum mendapatkan imunisasi primer.
Surabaya (beritajatim.com) – Peningkatan kasus pertusis atau batuk rejan di berbagai negara, termasuk Indonesia, mendorong pentingnya penguatan perlindungan melalui vaksinasi. Penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular ini berisiko menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi yang belum memiliki sistem kekebalan tubuh optimal.
Dokter Spesialis Anak National Hospital Surabaya, dr. Achmad Y. Heryana, SpA, menjelaskan vaksin Tdap merupakan booster penting untuk memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis. Menurutnya, perlindungan terhadap batuk rejan perlu terus dijaga karena kekebalan tubuh dapat menurun seiring waktu.
“Vaksin Tdap diberikan sebagai booster untuk memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis (batuk rejan). Terjadi peningkatan kasus pertusis global termasuk Indonesia pada tahun 2023, sehingga pencegahan melalui vaksinasi menjadi semakin penting,” ujar Achmad di National Hospital, Selasa (9/6/2026).
Achmad menjelaskan perlindungan terhadap pertusis dimulai sejak bayi melalui imunisasi DTP yang diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Setelah itu, anak akan menerima vaksin booster pada usia 18 bulan serta 5–7 tahun. Perlindungan kemudian diperkuat kembali melalui pemberian vaksin Tdap saat remaja.
Selain diberikan kepada anak dan remaja, vaksin Tdap juga direkomendasikan bagi orang dewasa sebagai booster. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kekebalan terhadap pertusis, mengingat efektivitas perlindungan dari imunisasi sebelumnya dapat berkurang seiring bertambahnya usia.
Vaksin Tdap juga menjadi salah satu imunisasi yang dianjurkan bagi ibu hamil. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi National Hospital Surabaya, dr. Hendera Henderi, SpOG, mengatakan vaksin sebaiknya diberikan pada usia kehamilan 27 hingga 36 minggu pada setiap kehamilan.
Menurut Hendera, antibodi yang terbentuk setelah ibu menerima vaksin dapat diteruskan kepada janin melalui plasenta sehingga bayi memperoleh perlindungan pasif sejak lahir.
“Pemberian Tdap pada ibu hamil sangat penting karena bayi usia kurang dari 2 bulan belum dapat menerima vaksin pertusis primer. Antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi ibu dapat menyeberangi plasenta dan memberikan perlindungan pasif pada bayi sejak lahir,” kata Hendera.
Ia menjelaskan bayi menjadi kelompok paling rentan mengalami komplikasi akibat pertusis karena belum dapat menerima vaksin pertusis primer sebelum berusia dua bulan. Oleh sebab itu, perlindungan melalui vaksinasi ibu hamil menjadi strategi penting untuk menekan risiko infeksi pada masa awal kehidupan.
Kolaborasi antara dokter spesialis anak dan dokter spesialis obstetri dan ginekologi juga dinilai menjadi kunci dalam upaya pencegahan pertusis. Dengan pemberian vaksin Tdap sesuai rekomendasi, perlindungan terhadap bayi dapat dimulai bahkan sejak masih berada di dalam kandungan. [asg/beq]






