RINGKASAN BERITA:
- Sebagian jemaah haji asal Makassar tampil nyentrik dengan busana gemerlap penuh manik-manik dan emas di Bandara Jeddah.
- Gaya busana berbiaya Rp10 juta hingga Rp20 juta per stel ini merupakan tradisi budaya Bugis-Makassar yang mengakar.
- Bagi masyarakat Bugis, pakaian mewah tersebut bukan ajang pamer melainkan ekspresi syukur mendalam usai berhaji.
- Pakaian adat khas Bugis ini umumnya sudah dipersiapkan dari tanah air semenjak sebelum berangkat ke Arab Saudi.
Jeddah (beritajatim.com) – Sebagian jemaah haji asal Makassar dan Sulawesi Selatan menampilkan fenomena unik dengan mengenakan busana gemerlap (blink-blink) bertabur manik-manik serta perhiasan emas yang mencolok saat bersiap dilepas pulang di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.
Penampilan nyentrik yang kontras dengan pakaian sederhana jemaah pada umumnya ini sengaja dikenakan sebagai bentuk ekspresi rasa syukur mendalam sekaligus penegasan identitas budaya Bugis-Makassar yang telah mengakar selama bertahun-tahun.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi bahwa ruang tunggu terminal bandara seketika berubah layaknya ajang peragaan busana akibat barisan jemaah yang berlenggak-lenggok mengenakan pakaian adat penuh warna dan berkilau.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, penggunaan busana yang megah tersebut sejatinya bukan sekadar media untuk memamerkan kemejaan finansial atau kemewahan materi di ruang publik.
Gaya berbusana ini memuat simbol kultural dan spiritual atas keberhasilan menyelesaikan rukun Islam kelima serta keselamatan fisik hingga bisa kembali ke kampung halaman.
Modal Puluhan Juta Demi Menjaga Warisan Leluhur
Dinamika persiapan di balik baju gemerlap ini ternyata membutuhkan modal finansial yang tidak sedikit. Mayoritas jemaah haji wanita asal Makassar rata-rata merogoh kocek berkisar antara Rp10 juta hingga Rp20 juta hanya untuk merancang satu setel baju kurung khas bertabur payet glitter mentereng ini.
Bahkan, pakaian kebesaran tersebut sudah dijahit dan disiapkan secara matang dari tanah air semenjak sebelum mereka bertolak menuju Arab Saudi.
“Bajunya dibawa dari Makassar trus juga ada yg dibeli disini, habisnya lumayan lebih 10 juta,” ungkap Suryani, salah satu jemaah haji asal Makassar yang tampil mencolok dengan busana bernuansa emas kental saat ditemui di sela pemeriksaan dokumen bandara.
Bagi para jemaah, pakaian ini memiliki nilai emosional yang tinggi karena menjadi penanda visual bahwa mereka telah resmi menyandang gelar haji dan hajjah sekembalinya ke tanah air. Nilai kebanggaan lokal tersebut dipertahankan secara turun-temurun lintas generasi sebagai bagian dari ritual kepulangan.
“Ini ciri khas baju bugis Makkasar, jadi kalo kita pulang dari Mekkah itu seharusnya pake baju begini. Kebesarannya orang bugis Makassar,” tutur jemaah haji Makassar lainnya, Ramla dan Ina, secara kompak.
Busana gemerlap itu dipandang sebagai saluran paling pas untuk meluapkan kebahagiaan setelah berhasil menuntaskan perjalanan spiritual yang menjadi impian terbesar bagi umat Muslim.
Di tengah gempuran arus modernisasi, bertahannya tradisi jemaah haji Makassar berbusana glamor saat mendarat di bandara menjadi bukti nyata bahwa pelaksanaan ibadah agama dan kelestarian adat budaya daerah dapat berjalan beriringan secara harmonis. Warisan luhur ini terus dijaga ketat oleh masyarakat Sulawesi Selatan sebagai simbol penanda syukur terindah pasca-haji. [ian/MCH]






