Ringkasan Berita:
- Penjahit asal Desa Trowulan, Mojokerto, menerima pesanan ribuan seragam sekolah menjelang tahun ajaran baru.
- Pesanan berasal dari lembaga TK dan RA di tujuh kecamatan melalui IGTKI.
- Usaha jahit tersebut memberdayakan delapan penjahit yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga.
- Seluruh pesanan ditargetkan selesai sebelum dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027.
Mojokerto (beritajatim.com) – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, aktivitas di rumah produksi milik Istia (43), penjahit asal Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, semakin sibuk. Ribuan seragam sekolah untuk siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) harus diselesaikan hingga akhir bulan ini.
Pesanan seragam tersebut mulai dikerjakan sejak Januari 2026 dan berasal dari lembaga pendidikan di tujuh kecamatan melalui Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI). Seluruh pesanan ditargetkan rampung pada akhir Juni agar dapat segera dibagikan kepada para siswa sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Di tengah tingginya permintaan, Istia tidak bekerja sendiri. Ia memberdayakan delapan penjahit yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga di lingkungan sekitar. Sistem kerja yang diterapkan memungkinkan para penjahit membawa pekerjaan ke rumah masing-masing sehingga tetap dapat menjalankan aktivitas keluarga.
“Ada 8 orang, 1 orang proses jahit dikerjakan di sini, sementara 7 orang lainnya dikerjakan di rumah masing-masing. Pembuatan pola dan pemotongan kain saya kerjakan sendiri. Setelah itu baru dibawa pulang untuk dijahit. Mereka sudah lama membantu saya, jadi tidak perlu diawasi lagi karena sudah saling percaya,” ungkapnya, Sabtu (6/6/2026).
Setiap hari puluhan hingga ratusan potong seragam dikerjakan. Seragam yang dibuat terdiri dari dua model, yakni kemeja lengan pendek untuk siswa TK dan kemeja lengan panjang lengkap dengan kerudung untuk siswi RA. Sementara jenis seragam yang diproduksi juga ada dua, yakni motif batik dan seragam warna biru putih.
Usaha jahit yang telah dirintis selama dua dekade itu memang sudah tidak asing lagi bagi lembaga pendidikan di wilayah Mojokerto. Bahkan, pesanan seragam dari IGTKI telah rutin diterima sejak sekitar 10 tahun terakhir. Meski tengah fokus menyelesaikan pesanan dalam jumlah besar, Istia tetap melayani pesanan satuan dari masyarakat.
“Ya tetap saya terima meskipun satuan jahitnya, biasanya ya warga sekitar. Kan ini momen tahun ajaran baru. Kalau tidak ada masuk sekolah, bisa-bisa tidak ada kerjaan kalau pesanan satuan tidak saya terima. Nanti kalau musim penerimaan siswa baru berakhir, biasanya saya buat daster untuk dijual,” tambahnya.
Bagi warga sekitar, usaha jahit milik Istia bukan hanya tempat membuat pakaian, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah ibu rumah tangga. Tingginya pesanan menjelang tahun ajaran baru membawa berkah tersendiri bagi mereka.
Salah satu pelanggan, Fitria Sutrisni Wulandari (38), mengaku mempercayakan pembuatan seragam sekolah anaknya kepada Istia. Menurutnya, hasil jahitan yang rapi dan waktu pengerjaan yang cepat menjadi alasan utama, ditambah harga yang dinilai terjangkau.
“Saya pilih jahit di sini karena hasilnya bagus dan rapi. Harganya juga terjangkau, sekitar Rp210 ribu untuk satu paket yang terdiri dari satu celana, tiga atasan lengan pendek, dan satu atasan lengan panjang. Ini untuk seragam anak saya yang mau masuk SD,” ujarnya.
Musim penerimaan siswa baru yang biasanya identik dengan meningkatnya kebutuhan perlengkapan sekolah, tahun ini kembali membawa berkah bagi para pelaku usaha kecil seperti Istia. Dari rumah jahit sederhana di Trowulan, ribuan seragam kini disiapkan untuk menemani langkah anak-anak memasuki tahun ajaran baru. [tin/beq]






