Blitar (beritajatim.com) – Masyarakat Blitar baru-baru ini digegerkan oleh sebuah pesan berantai (broadcast message) yang menyebarkan desas-desus tak sedap di lingkungan Kepolisian Resor (Polres) Blitar. Isu liar tersebut menarasikan adanya tindak penganiayaan berat yang diduga dilakukan oleh Wakapolres Blitar terhadap ajudannya sendiri. Namun, pihak kepolisian dengan cepat mengambil langkah tegas untuk meluruskan disinformasi ini.
Kapolres Blitar, AKBP Rivanda, secara resmi dan tegas membantah seluruh narasi yang beredar di masyarakat. Ia memastikan bahwa kabar tersebut adalah hoaks yang tidak memiliki dasar fakta.
Isu ini bermula dari sebuah pesan singkat berantai di aplikasi pertukaran pesan yang menyebar dengan cepat. Dalam pesan tersebut, terdapat klaim rinci namun tak berdasar yang berbunyi:
“Info dari sumber. Kejadian penganiayaan Selasa, ajudan mengalami luka-luka dan patah tulang hidung. Ajudan Bripda Andre kesatuan Sabhara. Pagi tadi Paminal dan Provos memintai keterangan. Untuk lebih lanjutnya langsung kontak Kapolres atau Kasi Humas.”
Pesan yang seolah-olah membocorkan informasi internal ini sontak memicu tanda tanya besar di kalangan masyarakat dan awak media mengenai integritas di tubuh Polres Blitar.
Merespons bola liar yang menggelinding di tengah masyarakat, AKBP Rivanda langsung turun tangan melakukan investigasi internal. Sebagai pimpinan tertinggi di Polres Blitar, ia memastikan bahwa lingkungan kerjanya tetap profesional dan kondusif.
“Sudah saya cek dari semalam terkait isu tersebut. Tapi sampai detik ini, tidak ada kejadian yang sesuai dengan info (pesan berantai) tersebut,” tegas AKBP Rivanda saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).
Untuk memastikan kebenaran secara mutlak, Kapolres tidak hanya mengandalkan laporan bawahan, tetapi juga langsung memanggil dan memeriksa kondisi fisik ajudan yang namanya terseret dalam pesan hoaks tersebut, yakni Bripda Andre.
“Iya betul (hoaks), karena saya bertemu langsung dengan objek (Bripda Andre) yang diisukan ini. Dan saat ini yang bersangkutan dalam keadaan sehat-sehat, serta tidak dalam perawatan medis seperti yang diisukan,” tandas perwira menengah dengan dua melati di pundaknya tersebut.
Dengan adanya klarifikasi resmi ini, Polres Blitar mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi. Peredaran pesan berantai tanpa sumber yang jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya berpotensi menimbulkan fitnah serta mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat (Kamtibmas) di wilayah Blitar. (owi/kun)






