Banyuwangi (beritajatim.com) – Aksi penipuan dengan modus peretasan aplikasi WhatsApp kembali memakan korban. Kali ini, sebuah kios agen BRILink di Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, mengalami kerugian hingga Rp19 juta setelah pelaku berhasil mengelabui penjaga kios dengan skenario transfer uang palsu.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 13.45 WIB. Seorang wanita tak dikenal yang mengenakan pakaian serba hitam datang ke kios dan berpura-pura hendak melakukan transaksi tarik tunai. Namun, di balik transaksi yang tampak biasa itu, pelaku ternyata telah menyiapkan modus yang membuat korban kehilangan uang dalam jumlah besar.
Kapolsek Glenmore, AKP Budi Hermawan, menjelaskan bahwa awalnya pelaku mengaku ingin melakukan transfer dana melalui rekening Bank Jatim sebelum melakukan tarik tunai. Pelaku kemudian meminta agar rekening tujuan yang digunakan bukan rekening Bank BRI.
“Pelaku meminta agar rekening penerima selain Bank BRI,” ujar AKP Budi Hermawan.
Menurut pelaku, transfer dari Bank Jatim ke rekening Bank BRI membutuhkan waktu hingga 24 jam sehingga ia meminta rekening bank lain untuk mempercepat proses transaksi. Karena tidak menaruh curiga, penjaga kios bernama Dewi (25) kemudian menghubungi pemilik agen BRILink guna meminta nomor rekening alternatif.
Melalui seorang karyawan bernama Nurul, korban mendapatkan nomor rekening Bank BNI yang kemudian diberikan kepada pelaku. Situasi tersebut menjadi titik awal aksi penipuan dijalankan.
Setelah memperoleh nomor rekening tujuan, pelaku berpura-pura mengalami gangguan pada telepon genggamnya. Dengan alasan ingin menghubungi suaminya untuk melakukan transfer dana, pelaku meminjam ponsel milik korban.
Tanpa disadari korban, pada saat memegang ponsel tersebut pelaku diduga memanfaatkan akses untuk menjalankan aksinya. Tidak lama kemudian, pelaku mengaku bahwa dana telah berhasil ditransfer dan menunjukkan adanya konfirmasi melalui aplikasi WhatsApp.
Korban yang percaya dengan konfirmasi tersebut kemudian menyerahkan uang tunai sebesar Rp19 juta kepada pelaku sebagai transaksi tarik tunai.
“Hp korban sebelumnya sempat dipinjam, saat mengembalikan pelaku sudah mengkonfirmasi uang sudah di transfer. Setelah mendapatkan uang dari korban, pelaku langsung pergi meninggalkan kios BRILink,” jelas AKP Budi Hermawan.
Beberapa saat setelah pelaku meninggalkan lokasi, pemilik agen BRILink menghubungi korban dan menanyakan alasan dana transfer sebesar Rp19 juta belum masuk ke rekening tujuan. Pertanyaan tersebut membuat korban terkejut karena sebelumnya ia telah menerima konfirmasi melalui WhatsApp yang diyakini berasal dari Nurul.
Korban kemudian melakukan pengecekan lebih lanjut bersama pemilik usaha. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa nomor WhatsApp milik Nurul ternyata telah diretas dan digunakan pelaku untuk mengirimkan pesan palsu seolah-olah transfer dana telah berhasil dilakukan.
“Setelah dilakukan pengecekan ternyata nomer milik Nurul di hack oleh pelaku sehingga pelapor mengetahui bahwa dirinya di tipu oleh pelaku,” ungkap AKP Budi Hermawan.
Kasus ini menambah daftar panjang kejahatan siber yang menyasar pelaku usaha mikro dan agen layanan keuangan di daerah. Modus peretasan WhatsApp yang dipadukan dengan rekayasa sosial (social engineering) dinilai semakin marak karena memanfaatkan kepercayaan korban dalam melakukan transaksi keuangan secara cepat.
Kepolisian mengimbau masyarakat, khususnya pemilik agen BRILink, loket pembayaran, maupun pelaku usaha yang melayani transaksi tunai, agar tidak mudah mempercayai bukti transfer atau konfirmasi melalui pesan instan tanpa melakukan verifikasi langsung terhadap saldo rekening tujuan.
Saat ini, Polsek Glenmore masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku. Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), meminta keterangan korban dan saksi, serta mengamankan rekaman CCTV yang berada di kios agen BRILink sebagai barang bukti.
Rekaman tersebut diharapkan dapat membantu petugas mengidentifikasi pelaku dan mengungkap jaringan kejahatan yang diduga menggunakan modus serupa di wilayah lain. Polisi juga mengimbau masyarakat yang pernah mengalami kejadian serupa untuk segera melapor guna mempercepat proses pengungkapan kasus.(ayu/ted)






