Ringkasan Berita:
- PDI Perjuangan menggelar pameran foto, surat, dan komik Bung Karno di kawasan Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
- Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno 2026.
- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti ketidakadilan, demokrasi, serta ancaman kolonialisme dalam kehidupan sosial politik.
- Hasto menegaskan Pancasila tidak hanya menjadi ideologi bangsa, tetapi juga harus menjadi dasar membangun tata dunia yang lebih adil.
Lebak (beritajatim.com) – PDI Perjuangan menggelar pameran foto, surat, dan komik Bung Karno di kawasan Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (2/6/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno tersebut mengusung tema “Bung Karno Milik Kita Semua!”.
Pameran yang digelar di halaman Patung Multatuli, Saidjah, dan Adinda itu menampilkan berbagai dokumentasi sejarah terkait perjalanan perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Dalam pidato pembukaan acara, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyampaikan pandangannya mengenai kondisi demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.
Hasto menilai kebebasan untuk membela kepentingan rakyat harus terus dijaga. Menurutnya, setiap upaya pembungkaman terhadap suara rakyat dapat menjadi tanda munculnya bentuk baru kolonialisme dalam kehidupan sosial dan politik.
“Ketika ada pihak manapun yang mencoba menghancurkan kebebasan kita untuk membela kepentingan rakyat, itu tanda-tanda hadirnya kolonialisme baru dalam sistem sosial politik kita,” tegas Hasto.
Ia juga menyinggung hasil penelitian yang disebutnya menunjukkan adanya tantangan terhadap kualitas demokrasi di Indonesia. Menurut Hasto, demokrasi tidak boleh berhenti pada aspek prosedural semata, tetapi harus mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto mengingatkan bahwa pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme yang telah berlangsung selama ratusan tahun di Indonesia.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan bangsa, termasuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial.
Hasto juga menyoroti warisan pemikiran Eduard Douwes Dekker atau Multatuli melalui karya Max Havelaar yang berhasil membuka mata dunia terhadap praktik penindasan pada masa kolonial. Karya tersebut bahkan disebut berkontribusi mendorong lahirnya kebijakan politik etis di Belanda.
Di hadapan peserta yang mengikuti kegiatan di bawah terik matahari, Hasto turut memberikan motivasi agar tetap bersemangat memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.
“Jangan takut dengan panasnya sinar matahari. Ketika saya di penjara karena memperjuangkan kebenaran dan cita-cita, sinar matahari menjadi langka. Bersyukurlah kita bisa mendapat sinar Sang Surya yang telah memberi energi kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, energi dan semangat perjuangan tersebut menjadi bagian dari peringatan Bulan Bung Karno yang diawali dengan peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni.
Hasto menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia, tetapi juga memiliki nilai universal yang dapat menjadi inspirasi dalam membangun peradaban dunia yang lebih adil dan berkeadaban.
“Pancasila bukan hanya ideologi bangsa, tetapi Pancasila juga harus membangun suatu tata dunia baru,” kata Hasto.
Peringatan Bulan Bung Karno setiap tahun menjadi momentum untuk menghidupkan kembali gagasan, pemikiran, serta semangat perjuangan Bung Karno dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai Pancasila diharapkan tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat. [hen/beq]






