Ringkasan Berita:
- Djurianto, jemaah haji asal Kota Madiun yang wafat di Tanah Suci, dikenang sebagai sosok yang sabar dan rendah hati.
- Sahabat lamanya, Eddy Nawawi, menyebut almarhum tidak pernah marah atau menyimpan dendam meski mendapat perlakuan kurang menyenangkan.
- Keduanya telah menjalin persahabatan sejak bertugas bersama di Korps Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau).
- Pertemuan sehari sebelum keberangkatan haji menjadi momen terakhir yang kini terus dikenang oleh sahabat dan keluarga.
Madiun (beritajatim.com) – Kepergian Djurianto di Tanah Suci saat menunaikan ibadah haji meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengenalnya. Di balik kabar duka tersebut, tersimpan banyak kenangan tentang sosok pria yang dikenal memiliki kesabaran luar biasa dan kepribadian yang menenangkan.
Salah satu kenangan itu datang dari sahabat lamanya, Eddy Nawawi. Keduanya telah menjalin persahabatan selama puluhan tahun sejak sama-sama bertugas di Korps Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau). Hubungan itu tetap terjaga erat hingga keduanya memasuki masa pensiun.
Bagi Eddy, ada satu karakter yang paling melekat dalam diri Djurianto, yakni kesabaran. Menurutnya, sifat tersebut tidak hanya terlihat saat masih aktif bertugas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari setelah purna tugas.
“Beliau ini orangnya luar biasa sabar. Saya sendiri orangnya keras, kalau berbicara kadang ceplas-ceplos dan nada tinggi. Tapi beliau tidak pernah membalas, tidak pernah marah, apalagi menyimpan dendam,” kenang Eddy saat ditemui di rumah duka, Selasa (2/6/2026).
Eddy mengaku selama mengenal Djurianto, dirinya tidak pernah melihat almarhum menunjukkan kemarahan kepada orang lain. Bahkan ketika mendapat teguran atau perkataan yang berpotensi menyinggung perasaan, Djurianto tetap bersikap ramah dan hangat.
Menurutnya, setiap kali bertemu, almarhum selalu menyapa dengan senyuman dan tidak pernah menunjukkan rasa kecewa kepada siapa pun.
Sikap tersebut membuat Djurianto dihormati dan disukai banyak orang. Di mata sahabat-sahabatnya, almarhum merupakan pribadi yang selalu berusaha melihat sisi baik dari setiap orang dan jarang mengeluhkan keadaan yang dihadapi.
“Kalau ada orang seperti beliau, rasanya sulit punya musuh. Karena beliau selalu mengalah, selalu berpikir positif dan tidak pernah memperpanjang persoalan,” ujarnya.
Kenangan terakhir bersama almarhum masih membekas dalam ingatan Eddy. Sehari sebelum keberangkatan menuju asrama haji, keduanya sempat berbincang cukup lama mengenai berbagai hal, termasuk persiapan menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.
Sebagai sahabat yang lebih dahulu menunaikan ibadah haji, Eddy memberikan sejumlah pesan kepada Djurianto agar menjaga kondisi fisik selama berada di Arab Saudi. Saat itu, almarhum diketahui sempat menghadapi kendala kesehatan yang membuat proses pemeriksaan kelayakan hajinya tertunda.
Meski demikian, Djurianto tidak pernah mengeluhkan kondisi yang dialaminya. Ia menjalani pengobatan dengan disiplin dan berupaya menjaga kesehatannya hingga akhirnya dinyatakan layak berangkat menunaikan ibadah haji.
Pertemuan tersebut ternyata menjadi momen terakhir mereka bertatap muka. Tidak lama setelah keberangkatan, kabar duka datang dari Tanah Suci. Djurianto wafat setelah menyelesaikan salah satu rangkaian penting ibadah haji.
Bagi keluarga dan sahabat, kepergian Djurianto memang meninggalkan kesedihan mendalam. Namun, mereka juga merasa bersyukur pernah mengenal sosok yang sepanjang hidupnya dikenal penuh ketulusan, kesabaran, dan sikap rendah hati.
Nilai-nilai yang ditunjukkan Djurianto selama hidup kini menjadi kenangan yang terus hidup di hati keluarga, sahabat, dan orang-orang yang pernah mengenalnya. Kesabaran serta ketulusannya menjadi warisan moral yang dikenang jauh melampaui kepergiannya. [rbr/beq]






