Ponorogo (beritajatim.com) – Dentuman gamelan dan atraksi dadak merak bakal kembali menguasai panggung budaya Ponorogo. Festival Reog Remaja (FRR) XXII dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI dipastikan menjadi pembuka resmi rangkaian Grebeg Suro 2026 yang mulai digelar 6 Juni mendatang. Dua festival tersebut sekaligus menandai dimulainya pesta budaya terbesar di Bumi Reog yang tahun ini hadir dengan 28 agenda selama sebulan penuh.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan, tahapan persiapan kini telah memasuki pembahasan teknis dan detail pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, seluruh agenda dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Pokoknya tahun ini meriah, persiapan kami lakukan matang. Selain Pemkab, juga ada dukungan kegiatan dari komunitas-komunitas,” kata Lisdyarita, Selasa (2/6/2026).
Festival Reog menjadi salah satu magnet utama dalam perayaan Grebeg Suro tahun ini. FRR XXII yang diikuti kelompok reog dari kalangan pelajar serta FNRP XXXI yang menghadirkan peserta dari berbagai daerah, akan menjadi pembuka resmi perhelatan budaya tahunan tersebut.
Kehadiran kedua festival itu tidak hanya menjadi ajang pelestarian seni reog, tetapi juga menunjukkan semakin luasnya antusiasme masyarakat terhadap kesenian khas Ponorogo. Bahkan, pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat sejumlah peserta baru yang turut meramaikan kompetisi. “Banyak pesertanya, FRR tentu dari sekolah-sekolah, serta FNRP tahun ini ada peserta yang baru,” ungkapnya.
Selain festival reog, Grebeg Suro 2026 juga diisi beragam kegiatan lain yang tersebar sepanjang Juni hingga Juli. Beberapa agenda bahkan telah lebih dulu digelar sebagai rangkaian pembuka, di antaranya Simaan Quran Rabu Pahing pada 19–20 Mei 2026 dan Festival Pencak Silat Jawara Bumi Warok Ponorogo.
Bagi masyarakat Ponorogo, Grebeg Suro bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Perayaan tersebut telah berkembang menjadi penggerak ekonomi daerah yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung dari berbagai wilayah. Dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, sektor perhotelan, restoran, hingga jasa perjalanan wisata.
Optimisme terhadap peningkatan kunjungan wisata tahun ini juga semakin kuat setelah Reog Ponorogo memperoleh pengakuan internasional sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Di saat yang sama, Ponorogo juga telah masuk dalam jejaring kota kreatif dunia melalui UNESCO Creative Cities Network (UCCN).
Menurut Bunda Rita, sapaan akrabnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan oleh para pelaku usaha untuk menghadirkan produk dan layanan yang lebih inovatif. Kreativitas menjadi kunci agar peluang ekonomi dari lonjakan wisatawan selama Grebeg Suro dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
“Pelaku usaha harus mampu memanfaatkan peluang dengan menggali kreativitas, ide, atau gagasan untuk menciptakan produk menarik. Kunjungan wisata ke Ponorogo pasti meningkat pada Grebeg Suro,” pungkasnya. (end/kun)

as a preferred source on Google




