RINGKASAN BERITA:
- Suasana emosional dan isak tangis jemaah pecah mengiringi gema lantunan talbiyah serta doa pertobatan di dalam tenda maktab.
- Sejumlah jemaah haji Indonesia bersyukur dapat menunaikan rukun utama haji ini setelah mengantre sejak tahun 2011 dan 2012.
- Selesai menjalani wukuf, jutaan jemaah langsung didorong menuju Muzdalifah untuk melakukan mabit menjelang tengah malam.
Makkah (beritajatim.com) – Isak tangis dari sekitar 1,6 juta jemaah haji yang datang dari berbagai belahan dunia pecah saat menjalani prosesi ritual wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026). Pelaksanaan puncak sekaligus rukun tertinggi ibadah haji 1447 H / 2026 M tersebut berlangsung sangat emosional dan diselimuti suasana spiritual yang mendalam.
Dalam syariat Islam, wukuf wajib dilakukan dengan cara berdiam diri di kawasan Padang Arafah dalam kondisi mengenakan kain ihram pada 9 Zulhijah, atau tepat sehari sebelum perayaan Hari Raya Idul Adha. Kedudukan ibadah ini menjadi pembeda mutlak antara ibadah haji dan umrah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa inti dari haji adalah Arafah.
Atmosfer sakral mulai terasa kental ketika khotbah wukuf dikumandangkan dan kalimat talbiyah bergaung masif di dalam tenda-tenda maktab. Ratusan ribu jemaah asal Indonesia tampak bersimpuh pasrah, tak kuasa menahan air mata saat melafalkan bait-bait zikir dan doa pertobatan di bawah naungan terik matahari.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, setelah matahari terbenam di Arafah, gelombang jemaah langsung dievakuasi secara bergelombang menuju Muzdalifah. Di tengah prosesi mabit (bermalam sejenak) untuk mengumpulkan batu kerikil tersebut, sisa-sisa keharuan dari Padang Arafah masih melekat kuat pada sanubari jemaah.
Salah satu potret emosional tersebut dirasakan langsung oleh jemaah haji reguler asal Kota Banda Aceh, Muhammad Musawir Ginting. Pemuda ini mengaku air matanya tumpah tanpa bisa dibendung saat waktu wukuf memasuki fase-fase krusial batiniah, di mana ia teringat atas semua khilaf masa lalu dan kerinduan mendalam pada mendiang sang ayah.
“Alhamdulillah saya sempat nangis karena terharu. Teringat orang tua, ayah almarhum,” kata Musawir kepada tim Media Center Haji (MCH) saat ditemui di sela-sela kepadatan jalur Muzdalifah, Rabu (27/5/2026) dini hari.
Musawir menuturkan, dirinya merasa sangat bahagia sekaligus terguncang secara emosional karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah suci. Perjalanan spiritual ini merupakan hasil dari kesabaran panjang setelah dirinya mengantre di daftar tunggu Siskohat sejak belasan tahun silam.
“Saya daftar haji reguler 2011,” cetusnya mengingat masa tunggu 15 tahun yang harus ia lalui sebelum Kemenhaj RI memberangkatkannya ke Arab Saudi pada musim haji kali ini.
Nuansa kebahagiaan spiritual yang sama juga dirasakan oleh Yayang Nurwanda (29 tahun), jemaah haji asal Kabupaten Pandeglang, Banten. Menariknya, ia berhasil menembus kuota keberangkatan tahun ini dalam satu ikatan keluarga inti, dengan didampingi kedua adik kandungnya, Muhammad Nur Adiyanullah (19 tahun) dan Najwa Ahada (24 tahun).
Yayang dan kedua adiknya tercatat telah didaftarkan dalam program haji reguler oleh orang tua mereka sejak tahun 2012. Ia mengaku sangat bersyukur karena mendapatkan keistimewaan fisik yang bugar untuk melintasi beratnya medan Armuzna di usia produktif, sebuah kesempatan yang ia manfaatkan penuh untuk mengalirkan doa keselamatan.
“Alhamdulillah pastinya bersyukur banget udah dapat kesempatan di usia kita yang muda ini,” tutur Yayang dengan mata berbinar.
Di hamparan gersang Arafah, Yayang mengaku memfokuskan untaian doanya untuk membalas jasa kedua orang tuanya di tanah air. Ia memohon agar ayah dan ibunya senantiasa dilimpahi kesehatan fisik serta kelancaran dalam mengelola roda usaha keluarga.
Sementara itu, sang adik bungsu, Muhammad Nur Adiyanullah, mengaku kehilangan kata-kata untuk menggambarkan rasa takjubnya saat melihat lautan manusia berpakaian putih ihram berkumpul setara di Padang Arafah. Baginya, tidak ada kalimat yang lebih pantas diucapkan selain pujian agung kepada Sang Pencipta.
“Tidak ada kata selain Alhamdulillah,” ucap Muhammad Nur Adiyanullah mengakhiri kesaksian spiritualnya. [ian/MCH]






