Surabaya (beritajatim.com) – Generasi Z atau Gen Z kini mulai menolak posisi manajemen struktural. Mereka menilai jabatan tinggi seperti manajer atau direktur terlalu membebani kesehatan mental dan menyita waktu pribadi.
Pakar Psikologi Perkembangan Universitas Airlangga (Unair), Dr Dewi Retno Suminar MSi Psikolog menilai fenomena ini muncul akibat karakteristik unik anak muda. Karakter tersebut terbentuk oleh paparan teknologi serta pola asuh orang tua.
“Gen Z hadir ketika teknologi sedang berubah cepat, dengan terpaan bertubi-tubi tersebut membuat kesempatan mengendapkan informasi tidak sekuat dan selama generasi sebelumnya,” ujar Dewi, Selasa (26/5/2026).
Perubahan teknologi yang masif membuat kelompok ini mampu bekerja multitugas. Namun, kondisi digital tersebut juga memicu kecemasan tinggi saat mereka harus berinteraksi sosial di dunia kerja.
“Akibatnya secara psikologis sering panik, cemas dan ketika berinteraksi sosial sering menganggap energi sosialnya terkuras habis,” kata Dewi.
Faktor lain yang memicu keengganan memimpin adalah pola asuh protektif. Banyak orang tua saat ini lebih sering memberikan kemudahan ketimbang tantangan karena rasa khawatir yang berlebihan.
“Orang tua dalam pengasuhan sering memberikan kemudahan dan bukan memberikan tantangan,” ucap Dewi.
Kondisi itu membuat anak muda kurang siap menghadapi tekanan psikologis di lingkungan kerja. Mereka cenderung menghindari konflik yang biasa dihadapi oleh seorang pemimpin atau pengambil keputusan.
“Contohnya ketakutan anaknya tidak mampu melakukan, ketakutan anaknya di-bully, ketakutan anaknya tidak kuat mental ketika dimarahin guru dan lain-lain,” tutur Dewi.
Penolakan jabatan ini berpotensi memicu krisis kepemimpinan di dunia industri dalam sepuluh tahun ke depan. Struktur organisasi tradisional diprediksi runtuh dan berganti menjadi model yang lebih mendatar.
“Bisa jadi akan ada perubahan model struktur organisasi menjadi lebih fleksibel dengan lebih menekankan pada apa yang harus dilakukan,” jelas Dewi.
Model baru ini hanya akan menyisakan dua level jabatan, yaitu konseptor dan pelaksana. Langkah tersebut dinilai dapat memotong birokrasi komunikasi yang rumit di dalam perusahaan.
“Perlu dipertimbangkan untuk menyederhanakan organisasi di perusahaan agar memudahkan komunikasi dan tidak perlu membuat menjadi berjenjang-jenjang,” pungkas Dewi. [ipl/aje]






