RINGKASAN BERITA:
- Mbah Marsiah (105) asal Desa Bulu, Semen, Kediri, menjadi jemaah haji tertua Indonesia musim 1447 H/2026 M yang telah tiba di Makkah.
- Tergabung dalam kloter SUB 112 Embarkasi Surabaya, ia mendarat pada Jumat (22/5/2026) pagi WAS and menempati hotel di Ar Rawdah.
- Biaya pendaftaran dirajut mandiri dari tabungan receh Rp2.000 hasil jualan jenang bubur di bawah pohon sawo halaman rumahnya.
- Pihak keluarga mendaftarkan almarhumah pada Oktober 2021 hingga berhasil berangkat melalui skema kuota khusus lansia Kemenhaj RI.
Makkah (beritajatim.com) – Sebuah kaleng biskuit lusuh yang tersimpan rapat di dalam kegelapan lemari kayu di Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, kini telah menyelesaikan tugas sejarahnya.
Selama bertahun-tahun, kaleng itu menjadi saksi bisu jemari renta yang memasukkan lembaran uang dua ribu dan lima ribu rupiah—serpihan rezeki yang disisihkan dengan penuh keteguhan dari hasil berjualan jenang bubur di depan rumah.
Kini, sang pemilik celengan, Mbah Marsiah Salim, telah berada di tempat yang paling dicita-citakannya. Pada usianya yang telah menyentuh 105 tahun, perempuan tangguh asal Bumi Joyoboyo ini resmi menginjakkan kakinya di Kota Suci Makkah pada Jumat (22/5/2026) pagi Waktu Arab Saudi (WAS), menasbihkan dirinya sebagai jemaah haji Indonesia tertua pada musim haji tahun ini.
Tergabung dalam kelompok terbang (kloter) SUB 112 asal Embarkasi Surabaya, Mbah Marsiah mendarat di Tanah Suci dan kini menetap di Hotel Luluat Alsharq Al Awsat, wilayah Ar Rawdah, Makkah. Didampingi anak perempuannya, Muidah (63), tidak ada gurat kelelahan ekstrem di wajahnya yang dipenuhi guratan satu abad, melainkan sebuah rasa pasrah yang begitu damai.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, keteguhan hati Mbah Marsiah menjadi oase yang menyejukkan di pemondokan.
Ketika ditanya mengenai pengalaman pertamanya membelah awan dengan burung besi menuju Arab Saudi, ia justru tertawa renyah dengan kepolosan khas masyarakat pedesaan Jawa Timur.
“Ya enak toh. Orang tidak pernah keluar. Tidak pernah bepergian,” tutur Mbah Marsiah sambil membetulkan letak duduknya di kursi roda. Baginya, penerbangan jarak jauh ini dilalui dengan rasa takjub yang sederhana. “Lancar, tidak ada apa-apa. Lagipula setirnya halus kok, tidak kencang sekali begitu,” guraunya diiringi tawa renyah para petugas.
Keajaiban di Bawah Pohon Sawo
Impian suci Mbah Marsiah untuk menyempurnakan rukun Islam kelima dirajutnya dalam kesunyian. Saban hari, di bawah rindangnya pohon sawo di halaman rumahnya, ia mengaduk adonan tepung dan santan di atas tungku. Dari setiap porsi jenang bubur yang terjual, sebagian uangnya langsung disembunyikan di dalam kaleng tanpa diketahui tetangga sekitar.
“Anu ya menabung, saya kan jualan jenang. Saya menabung sedikit-sedikit begitu, saya masukkan kaleng lalu saya simpan. Nanti kalau ada kurangnya, ditambahkan oleh anak saya,” kenang Mbah Marsiah polos.
Uang recehan itu dikumpulkan perlahan hingga pada Oktober 2021, pihak keluarga membawanya untuk mendaftar haji dan langsung masuk dalam program percepatan kuota lansia yang dikelola Kemenhaj RI.
Di balik tawanya yang masih renyah di usia senja, Mbah Marsiah menyimpan cerita yang nyaris merenggut impian hajinya. Beberapa tahun lalu, ia yang saat itu masih bersikeras hidup dan memasak sendirian, sempat terjatuh dan pingsan di dalam kamar mandi yang terkunci dari dalam sebelum akhirnya diselamatkan oleh anak-anaknya.
Pasca-insiden memilukan itu, Nuriah, anak ketiganya, sengaja tinggal berdampingan di sebelah timur rumah untuk menemani dan merawat Mbah Marsiah setiap hari.
Kemandirian yang telah ditempa selama satu abad membentuk karakter Mbah Marsiah menjadi pribadi yang enggan mengeluh. Di dalam kabin pesawat, ia mengaku sama sekali tidak bisa memejamkan mata karena hembusan angin pendingin yang teramat dingin, meski sebuah jaket telah membungkus tubuhnya. Namun, semua itu terbayar lunas saat ia menapakkan kaki di Makkah. “Rasanya ayem, berangkat pulang sehat,” bisiknya lembut.
Urusan konsumsi pun tidak menjadi soal bagi lidah desanya, di mana ia melahap hidangan boks katering siap santap (ready to eat) Nusantara dengan penuh kesyukuran.
“Ya cocok saja. Namanya orang desa ya cocok-cocok saja. Oh iya, enak,” cetusnya. Ia hanya memiliki pantangan terhadap daging ayam karena alasan alergi gatal, dan lebih memilih lauk tempe dadar, telur, atau sayur bayam, didampingi segelas susu hangat setiap pagi.
Kini, di bawah langit Ar Rawdah, Makkah, Mbah Marsiah yang mengaku tidak memiliki riwayat penyakit kronis ini sedang bersiap menyambut rangkaian umrah wajib dan wukuf. [ian/MCH]






