Ringkasan Berita
* Pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp17.646 per dolar AS mulai menekan dunia usaha akibat ketergantungan bahan baku impor manufaktur yang mencapai di atas 70%.
* Guna mencegah gelombang PHK dan kemerosotan daya beli, Kadin Jatim mendesak pemerintah segera merealokasi anggaran proyek non-prioritas seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dialihkan untuk pembangunan infrastruktur padat karya dan mempertebal bansos tunai.
* Di sisi lain, gejolak ini menjadi peluang bagi produk pertanian lokal Jawa Timur untuk tampil lebih kompetitif di pasar.
———————————————–
Surabaya (beritajatim.com) – Keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) mulai memakan korban di sektor riil dalam negeri. Nilai tukar rupiah yang merosot hingga menyentuh angka Rp17.646 per dolar AS pada Kamis (21/5/2026) mulai memberikan tekanan hebat bagi dunia usaha dan daya beli masyarakat.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah ini memberikan dampak berlapis yang sistematis bagi industri nasional.
“Setidaknya terdapat tiga lapisan dampak utama yang kini mulai dirasakan pelaku usaha, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri,” ujar Adik di Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Industri Manufaktur Paling Terpukul
Kenaikan biaya produksi menjadi pukulan paling telak. Pasalnya, ketergantungan industri manufaktur nasional terhadap bahan baku impor—seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik—masih sangat tinggi, yakni di atas 70 persen. Sektor manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil menjadi lini bisnis yang paling berdarah-darah saat ini.
Untuk bertahan, mayoritas pengusaha memilih mengorbankan margin keuntungan mereka ketimbang langsung menaikkan harga di tingkat konsumen. Namun, strategi ini dinilai tidak akan bertahan lama. Jika kondisi ini berlarut-larut, ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dipastikan mengintai akibat penurunan kapasitas produksi.
Di tengah hantaman badai ekonomi global, Adik melihat adanya secercah harapan bagi produk lokal yang tidak bergantung pada bahan baku impor. Sektor pertanian dan peternakan Jawa Timur yang saat ini surplus berpeluang besar merebut pasar.
“Produk-produk yang betul-betul lokal ini bisa lebih kompetitif dari produk impor yang sama. Contohnya petani jeruk atau durian, mereka bisa lebih menang dibanding produk impor,” jelasnya.
Desak Realokasi Anggaran KDMP ke Infrastruktur dan Bansos
Agar pertumbuhan ekonomi tidak terkoreksi terlalu dalam, Kadin Jatim mendesak pemerintah untuk mengambil langkah berani dalam kebijakan fiskal. Salah satunya adalah merealokasi anggaran proyek yang dinilai belum mendesak, seperti pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Adik menyarankan agar dana tersebut dialihkan ke sektor yang padat karya dan berdampak instan pada masyarakat, seperti:
* Proyek Infrastruktur: Mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menstimulus perputaran ekonomi daerah.
* Bantuan Sosial (Bansos) Tunai: Berperan langsung dalam menebalkan kantong masyarakat demi menjaga daya beli yang kian melemah.
Meski situasi kian menantang, Kadin Jatim mengimbau para pelaku usaha untuk tetap optimistis dan menyiapkan strategi adaptif sembari mempercayakan langkah stabilitas ekonomi kepada pemerintah.[rea]






