Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) merancang inovasi kecerdasan buatan bernama PENSyarat AI. Platform ini untuk mempermudah siswa tunarungu memahami kosakata lewat pengenalan gestur visual.
Inovasi tersebut diperkenalkan langsung kepada siswa dan guru di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) B Karya Mulya Surabaya. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tingkat pemula menjadi target sasaran.
Ketua tim pengembang PENSyarat AI, Muhammad Ariel Sulton, menjelaskan konsep dasar karyanya. Ia merancang sistem yang mampu membaca gestur gerakan tangan secara presisi.
“Platform pembelajaran ini mempermudah siswa membaca secara visual. Kami memanfaatkan kecerdasan buatan dan pengenalan gestur Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI),” kata Ariel, Rabu (20/5/2026).
Teknologi ini bekerja secara langsung menangkap gerakan di depan kamera perangkat. Sistem merespons cepat sekaligus memberi penilaian pada gestur tangan pengguna.
“Ada interaksi visual dua arah. Anak-anak yang memakai platform ini akan merasakan pengalaman belajar yang mandiri dan menyenangkan,” ucap Ariel.
Pengembangan teknologi cerdas ini tidak lepas dari peran dosen pembimbing, Paramita Eka Wahyu Lestari. Ia terus mendampingi tim sejak tahap awal pengerjaan.
“Sebelumnya mereka pernah membuat karya untuk dikompetisikan. Setelah itu, mahasiswa tertantang untuk terus mengembangkan hasil karya mereka,” jelas Paramita.
Riset lanjutan ditekuni secara serius oleh kelompok mahasiswa tersebut. Fokus inovasi bergeser pada penyelesaian hambatan komunikasi kelompok disabilitas di dunia nyata.
“Ini adalah solusi nyata untuk mengatasi tantangan literasi. Terutama masalah komunikasi yang kerap dihadapi anak berkebutuhan khusus tunarungu,” tuturnya.
Saat uji coba di kelas, siswa berlatih kosakata baru dan mempraktikkan gerakan isyarat. Komputer merespons dan memberi umpan balik jika gestur masih keliru.
Siswa segera memperbaiki posisi tangannya sesuai arahan dari sistem. Ruang kelas tampak hidup saat siswa bergiliran mencoba alat tersebut di hadapan layar.
Guru pendamping kelas 4 SDLB-B Karya Mulya, Sriati, mengamati langsung antusiasme anak didiknya. Ia melihat potensi besar alat tersebut dalam menunjang proses belajar mengajar.
“Anak-anak terlihat sangat tertarik dengan inovasi ini. Walaupun kadang mereka masih kurang sabar saat mempraktikkan gerakannya,” ujar Sriati.
Tanggapan dari guru diharapkan menjadi bahan evaluasi penyempurnaan bagi tim pengembang kampus. Sistem masih akan dipoles sebelum nantinya bisa beroperasi rutin di sekolah.
“Catatan dari kelas ini bisa menjadi masukan bagi mahasiswa. Terutama jika alat ini nanti benar-benar diimplementasikan ke sekolah,” tambahnya.
Kepala Sekolah SDLB-B Karya Mulya turut mengapresiasi terobosan mahasiswa PENS. Pihak sekolah berharap platform ini bisa lekas dipakai di dalam kelas.
PENSyarat AI diyakini cocok diintegrasikan ke dalam kurikulum harian. Penerapan teknologi ini bakal mempercepat penguasaan bahasa serta membangun rasa percaya diri siswa saat berkomunikasi. [ipl/aje]






