RINGKASAN BERITA:
- Kemenhaj RI menggaransi paket makanan siap santap (ready to eat) di Armuzna dapat langsung dibuka dan dikonsumsi tanpa dipanaskan.
- Desain kemasan hampa udara dirancang khusus sebagai wadah makan mandiri guna mempermudah mobilitas jemaah lansia.
- Seluruh menu mengusung cita rasa Nusantara dengan pemenuhan standar Tingkat Komponen Dalam Negeri minimal 50 persen.
- Total logistik pangan siap saji yang disiapkan untuk mengamankan fase puncak haji mencapai 3.082.200 paket boks.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia menjamin kemudahan konsumsi seluruh jemaah haji Indonesia selama fase puncak Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) melalui penyediaan paket makanan siap santap (ready to eat) yang bisa langsung dikonsumsi tanpa perlu dipanaskan atau diolah kembali.
Inovasi logistik pangan berbasis teknologi pengemasan hampa udara ini dihadirkan sebagai solusi praktis demi menjaga stamina jemaah di tengah tingginya ritme pergerakan massa sekaligus menghapus kecemasan pihak keluarga di tanah air.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kepastian layanan konsumsi instan ini menjadi pilar pelindungan penting bagi 182.332 jemaah reguler Indonesia yang saat ini telah berkumpul memadati Makkah hingga hari ke-29 operasional.
Di tengah paparan suhu panas ekstrem Kota Suci yang menyentuh angka menyengat 44 derajat Celsius, kehadiran katering siap saji ini sangat meringankan beban fisik jemaah—termasuk rombongan kloter asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur (Embarkasi Surabaya/SUB)—karena mereka tidak perlu lagi mengantre lama di dapur umum tenda maktab.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj RI, Jaenal Effendi, menegaskan bahwa jutaan boks makanan tersebut sengaja didesain untuk memotong birokrasi penyajian makanan di lapangan.
“Ini [paket makanan untuk puncak haji] sudah bisa langsung dibuka, dimakan. Tidak perlu dipanaskan,” ujar Jaenal seraya menunjukkan contoh fisik boks logistik pangan di Makkah, Selasa (19/5/2026).
Jaenal memaparkan, selain efisiensi waktu, keunggulan mekanis dari paket makanan komprehensif ini terletak pada struktur kemasannya yang kokoh. Bagian boks pembungkus luar dan lapisan foil kedap udara di dalamnya telah dirancang ergonomis sedemikian rupa sehingga dapat langsung difungsikan sebagai wadah piring makan darurat bagi jemaah di dalam tenda.
Mengingat adopsi teknologi ready to eat (RTE) ini merupakan hal baru bagi sebagian jemaah haji lansia, Kemenhaj telah menginstruksikan barisan petugas kloter serta Tim Khusus Mina untuk aktif melakukan pendampingan edukasi dari kamar ke kamar hotel hingga ke tenda pemondokan. “Khawatirnya ada jemaah yang tidak terbiasa makan makanan RTE ini, nanti ada petugas yang menyampaikan bahwa ini tinggal dibuka, digunting, langsung dimakan,” lanjutnya.
Rasa Otentik Nusantara dan Kepatuhan Standar TKDN
Untuk membangkitkan selera makan jemaah selama masa transisi yang menguras energi, seluruh variasi menu dikunci pada standar cita rasa lokal Indonesia. Jemaah tetap dapat menikmati hidangan khas kampung halaman yang lezat, mulai dari menu nasi uduk lengkap dengan daging, kari ayam kentang, rendang daging sapi, hingga semur ayam kacang merah yang diolah secara higienis dan memiliki daya tahan aman hingga 18 bulan berdasarkan uji laboratorium ilmiah.
Hebatnya, meski diproduksi secara massal untuk kebutuhan di Tanah Suci, Kemenhaj tetap memegang ketat komitmen kedaulatan ekonomi nasional. Seluruh paket pangan pengapit ini wajib memenuhi regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
“Meskipun berada di Tanah Suci, makanan-makanan RTE itu pun tetap memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Artinya, minimal 50% dalam paket makanan itu merupakan barang dari Indonesia,” tegas Jaenal.
Secara kumulatif, pemerintah menyiapkan total 3.082.200 paket boks pangan siap saji yang dibagi dalam dua klaster distribusi utama. Sebanyak 15 porsi diplot khusus untuk memenuhi kebutuhan jemaah di dalam area maktab inti Armuzna yang disuplai oleh pihak syarikah resmi (Rakeen Mashariq dan Albait Guest), sementara 6 porsi tambahan disiapkan sebagai makanan pengapit di hotel Makkah pada fase pra dan pasca-Armuzna (24, 25, dan 30 Mei) yang diproduksi oleh korporasi industri makanan terkemuka asal Indonesia.
Seluruh rantai pasok katering hotel ditargetkan harus rampung dikirim masuk ke kamar-kamar jemaah pada Sabtu, 23 Mei 2026 (6 Dzulhijjah) sebelum penghentian operasional bus shalawat dijalankan. Langkah penataan gizi yang masif ini berjalan beriringan dengan kesiapan program inklusif ramah lansia lainnya, seperti implementasi tiga skema mabit murur rukhsah di Muzdalifah, pengaturan alur satu arah di Jamarat lantai 3 melalui Terowongan Muaisim, serta seruan pembatasan gawai dari Kiai Kafabihi agar jemaah dapat menghadapi hari wukuf pada Selasa, 26 Mei mendatang secara bugar, aman, dan khusyuk. [ian/MCH]






