RINGKASAN BERITA:
- Kemenhaj RI menyiapkan 3.082.200 paket makanan siap santap (ready to eat) Nusantara untuk fase puncak haji.
- Skema konsumsi mencakup 15 porsi di area Armuzna dan 6 porsi makanan pengapit untuk pemondokan hotel Makkah.
- Pengadaan logistik pangan dipercepat guna mengantisipasi gejolak kenaikan bahan baku akibat geopolitik global.
- Teknologi kemasan kedap udara lulus uji laboratorium dengan garansi masa kedaluwarsa hingga 18 bulan.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia menyiapkan skema logistik khusus berupa 3.082.200 paket makanan siap santap (ready to eat) bercita rasa Nusantara untuk menjamin seluruh jemaah haji Indonesia bebas dari rasa cemas kelaparan selama fase puncak Armuzna.
Langkah mitigasi pangan ini dipilih untuk menjaga stamina jemaah di tengah mobilitas tinggi sekaligus menghapus kekhawatiran pihak keluarga di tanah air melalui asas pelayanan yang solutif dan responsif.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kepastian pasokan logistik yang melimpah ini menjadi tameng kesehatan krusial bagi jemaah.
Berdasarkan data operasional hari ke-29, sebanyak 182.332 jemaah reguler Indonesia—termasuk ribuan jemaah dari berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang tergabung dalam Embarkasi Surabaya (SUB)—kini telah berkumpul di Makkah menghadapi tantangan paparan suhu panas ekstrem yang menyentuh angka menyengat 44 derajat Celsius.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji (PE2HU) Kemenhaj RI, Jaenal Effendi, menegaskan bahwa jutaan boks makanan siap saji tersebut sengaja diproduksi massal untuk mempermudah jemaah saat menghadapi puncak ibadah yang menguras fisik.
“Total RTE yang kita butuhkan, terutama di Armuzna, totalnya sekitar 3.082.200 paket. Ini kita bagi dalam dua kategori besar,” ujar Jaenal kepada tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Selasa (19/5/2026).
15 Porsi Armuzna dan 6 Porsi Hotel
Kemenhaj memisahkan skema distribusi katering secara ketat agar tidak memicu antrean panjang. Kategori pertama mencakup 1.849.680 paket yang dialokasikan khusus untuk memenuhi 15 porsi makanan utama jemaah selama berada di pos inti Masyair (8 hingga 12 Dzulhijjah).
Manajemen distribusi di tenda-tenda Arafah dan Mina ini dikelola penuh oleh pihak syarikah resmi Arab Saudi (Rakeen Mashariq dan Albait Guest) yang bekerja sama dengan PT Halalanto Iba dan Family Food.
“Yang melakukan kontrak dengan dua syarikah ini adalah PT Halalanto Iba dan Family Food. Seluruhnya sudah terdistribusi oleh dua syarikah,” jelas Jaenal.
Sementara kategori kedua menyasar penyediaan 1.232.520 paket makanan pengapit untuk memenuhi jatah 6 kali makan jemaah saat berada di hotel pemondokan Makkah pada masa transisi pergerakan.
Paket tambahan ini dibagikan pada fase pra-Armuzna dan pasca-Armuzna, yakni tanggal 7, 8, dan 13 Dzulhijjah 1447 H (bertepatan dengan 24, 25, dan 30 Mei 2026).
Katering hotel ini diproduksi oleh industri makanan asli Indonesia yang berkolaborasi dengan korporasi Arab Saudi, seperti PT Halalan Thayyiban Indonesia, PT Indo Niaga Agro, dan PT Laukita Bersama Indonesia.
Jaenal mengungkapkan bahwa percepatan produksi dan pengadaan logistik pangan ini sengaja dilakukan lebih awal sebagai langkah antisipasi terhadap potensi hambatan rantai pasok global.
“Kemarin karena adanya geopolitik dan kenaikan bahan baku, kami memastikan pelaksanaan Armuzna mulai tanggal 7 sampai 13 tetap aman,” tuturnya.
Saat ini, jutaan paket makanan tersebut sudah berada di gudang-gudang sirkulasi dan siap dikirim masuk ke kamar hotel jemaah secara serentak pada Sabtu, 23 Mei 2026 (6 Dzulhijjah).
Guna membangkitkan selera makan jemaah lansia dan risiko tinggi (risti), variasi menu disusun sangat akrab dengan masakan rumah di tanah air. Jemaah dapat menikmati hidangan lezat seperti gulai ayam wortel kentang, semur ayam kacang merah, rendang daging kacang merah, kare ayam kentang, hingga opsi nasi basmati putih dan nasi uduk yang menggugah selera sekaligus menjadi obat rindu kampung halaman.
Kemudahan konsumsi menjadi keunggulan utama dari produk katering ramah lansia ini. Jemaah haji tidak perlu lagi mengantre di dapur umum atau repot memanaskan makanan di tengah keterbatasan fasilitas tenda.
“Ini sudah bisa langsung dibuka dan dimakan. Tidak perlu dipanaskan atau perlakuan lain,” tegas Jaenal.
Produk ready to eat ini menerapkan teknologi pengemasan hampa udara tingkat tinggi sehingga memiliki daya tahan (masa kedaluwarsa) hingga 18 bulan tanpa mengubah kadar gizi mikro maupun higienitasnya. “Kemarin juga sudah kita uji lagi di laboratorium dan masih sangat layak untuk dikonsumsi,” beber Jaenal.
Kemenhaj menginstruksikan seluruh petugas kloter untuk aktif memberikan edukasi cara membuka kemasan secara humanis kepada jemaah. Melalui ketercukupan pangan yang praktis ini, jemaah diharapkan dapat menghemat energi fisik dan lebih khusyuk menyambut pendorongan wukuf Arafah pada Selasa, 26 Mei mendatang.
“Mudah-mudahan jemaah bisa nyaman beribadah dan fokus karena kebutuhan makan selama Armuzna tercukupi,” pungkas Jaenal. [ian/MCH]






