RINGKASAN BERITA:
- Timwas DPR RI menilai penyelenggaraan haji 2026 mencetak sejarah dengan menempatkan jemaah reguler di hotel premium Markaziyah.
- Pelayanan operasional haji dinilai jauh lebih humanis, ramah lansia, dan berorientasi penuh pada pemuliaan jemaah.
- Inovasi keimigrasian Mecca Route (fast track) sukses memangkas antrean panjang lansia di bandara kedatangan Arab Saudi.
- Lebih dari 103 ribu jemaah haji Indonesia gelombang pertama telah menerima hak pelayanan optimal di Madinah.
Madinah (beritajatim.com) – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI mengapresiasi perubahan radikal pada wajah baru penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M yang dinilai jauh lebih humanis, premium, dan memuliakan jemaah.
Cetak sejarah baru berhasil diwujudkan pemerintah setelah rombongan besar jemaah haji reguler Indonesia kini diakomodasi di hotel-hotel bintang lima kawasan strategis Markaziyah yang lokasinya sangat dekat dengan Masjid Nabawi.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, transformasi standardisasi pemondokan ini mematahkan stigma lama bahwa hotel di lingkar utama Markaziyah hanya bisa diakses oleh jemaah haji khusus atau plus.
Lompatan kualitas ini menjadi angin segar yang menghapus kecemasan keluarga di tanah air, termasuk bagi masyarakat di berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang melepas kerabatnya dalam rombongan Embarkasi Surabaya (SUB).
Ketua Timwas Haji DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan realisasi hotel premium bagi jemaah reguler ini membuktikan keberpihakan penuh reformasi anggaran Kemenhaj RI di bawah komitmen Presiden Prabowo Subianto. Peningkatan ini dipantau langsung dalam kunjungan kerja Timwas ke Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah yang disambut oleh Kepala PPIH Daker Madinah, Khalilurrahman, Senin (18/5/2026).
“Yang kami lihat sekarang bukan hanya pelayanan administratif berjalan baik, tetapi juga bagaimana jemaah diperlakukan dengan penuh perhatian dan rasa hormat. Petugas hadir bukan sekadar bekerja, tetapi melayani dengan hati,” ujar Cucun usai mengecek kelayakan pemondokan.
Berdasarkan data operasional hingga hari ke-28, tercatat lebih dari 103.732 jemaah gelombang pertama telah mendarat di Madinah dan menikmati fasilitas tersebut secara tertib.
“Ini menjadi sejarah baru. Jemaah reguler sekarang bisa merasakan fasilitas hotel yang selama ini identik dengan layanan premium. Artinya ada keseriusan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” cetus Cucun.
Efisiensi Mecca Route Lindungi Stamina Jemaah Lansia
Selain peningkatan mutu akomodasi 94 hotel aktif di Madinah, Timwas DPR RI menyoroti kesuksesan implementasi layanan Mecca Route (fast track keimigrasian).
Inovasi kerja sama antarnegara ini memindahkan seluruh proses pemeriksaan paspor dan pemindaian sidik jari otoritas Arab Saudi ke bandara keberangkatan di Indonesia, seperti di Juanda Surabaya dan Soekarno-Hatta Tangerang.
Anggota Timwas Haji DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, menjelaskan dampak besar dari efisiensi fast track ini sangat dirasakan dalam melindungi ketahanan fisik jemaah dari risiko kelelahan ekstrem.
Setibanya di bandara Arab Saudi, jemaah tidak perlu lagi berdiri mengantre berjam-jam dan bisa langsung diarahkan masuk ke bus untuk beristirahat menuju hotel.
“Manfaatnya sangat dirasakan jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Setelah tiba, jemaah bisa langsung beristirahat tanpa harus menjalani proses imigrasi yang panjang,” urai Danang.
Satu Komando Menuju Puncak Armuzna
Mitigasi kelancaran arus di Madinah ini menjadi modal penting bagi Kemenhaj mengingat sirkulasi massa kini mulai bergeser massal ke Daker Makkah yang telah menampung 175.682 jemaah reguler.
Dengan kondisi cuaca Kota Suci yang saat ini menyentuh suhu panas menyengat 44 derajat Celsius, Timwas meminta PPIH mempertahankan ritme kerja satu komando yang responsif.
Pemerintah sendiri telah menyiagakan perlindungan berlapis menghadapi wukuf Arafah pada Selasa, 26 Mei 2026 nanti. Perlindungan tersebut mencakup pembentukan Tim Khusus (Timsus) Mina untuk evakuasi lansia, pemberlakuan skema murur (melintas Muzdalifah di dalam bus), serta garansi pemisahan porsi konsumsi berupa 15 kali makan siap santap (ready to eat) Nusantara di Armuzna dan 6 porsi di hotel Makkah agar jemaah tidak cemas kelaparan.
Cucun Ahmad Syamsurijal menandaskan bahwa jajaran legislatif akan terus mengawal operasional haji ini agar standar pelayanan premium berkeadilan terus diperluas pada musim-musim mendatang.
“Negara benar-benar hadir untuk melayani jemaah. Semangatnya bukan hanya menjalankan operasional haji, tetapi memastikan jemaah merasa aman, nyaman, dan dimuliakan selama beribadah,” pungkasnya. [ian/MCH]






